Padahal, Teheran konsisten membantah tuduhan Barat, menegaskan program nuklir Iran bersifat damai dan untuk kepentingan energi sipil semata.
Dalam konteks politik domestik, pengunduran diri Joseph Kent sebagai Direktur NCTC turut memperkuat kritik terhadap narasi perang berbasis intelijen AS Iran yang dipertanyakan.
Gabbard menambahkan, rezim Iran memang “masih utuh namun melemah signifikan”, namun butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kembali kapabilitas militer, termasuk rudal dan drone.
Sejak perang, Iran terus merespons dengan serangan rudal ke Israel dan negara Teluk, serta membatasi navigasi di Selat Hormuz—faktor yang turut mendongkrak harga energi global.
Dengan ancaman nuklir Iran pasca perang 2025 yang kini dinilai minim, fokus diplomasi internasional diprediksi bakal bergeser ke stabilisasi kawasan dan pemulihan ekonomi regional.***

