Berita Utama

Inovasi “Pentas Baris” Jadi Senjata Baru Puskesmas Bogor Selatan Lawan TBC

×

Inovasi “Pentas Baris” Jadi Senjata Baru Puskesmas Bogor Selatan Lawan TBC

Sebarkan artikel ini
puskesmas
Tim Puskesmas Bogor Selatan sedang melakukan penyuluhan dan konseling (KIS/IST)

KITAINDONESIASATU.COM– Angka kasus tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan serius bagi Indonesia yang menduduki peringkat kedua tertinggi di dunia setelah India. Di tingkat lokal, Kota Bogor sendiri berada di posisi kelima dengan jumlah kasus TBC yang signifikan. Melihat kondisi tersebut, Puskesmas Bogor Selatan menggagas sebuah terobosan strategis lewat inovasi bertajuk “Pentas Baris” atau Pemantauan Keberhasilan Pengobatan TBC.

Inovasi ini dirancang untuk mengatasi berbagai persoalan krusial, salah satunya adalah kasus loss to follow up (LTFU), terutama pada pasien tuberkulosis resisten obat yang masih ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Bogor Selatan.

“Inovasi ini hadir karena kami melihat masih adanya pasien pendukung (patient supporter) TBC yang putus pengobatan. Kondisi ini sangat berisiko, karena bisa memperparah penyebaran penyakit dan meningkatkan resistensi obat,” ujar Kepala Puskesmas Bogor Selatan, dr. Maria Yuliana, saat ditemui Kitaindonesiasatu.com, Selasa 8 Juli 2025.

Ia menegaskan bahwa “Pentas Baris” bukan semata program internal Puskesmas, namun merupakan bentuk sinergi antara lintas sektor dan elemen masyarakat. “Kegiatan ini melibatkan semua unsur — tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, kelurahan, dan kader. Kami ingin membangun komitmen bersama agar pengobatan TBC benar-benar tuntas dan tepat sasaran,” tambahnya.

Beberapa langkah konkret yang dilakukan melalui “Pentas Baris” antara lain:

– Komitmen bersama antara lintas sektor dan masyarakat.

– Pemantauan pasien oleh petugas kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan pihak kelurahan.

– Peluncuran BETA TBC (Buku Evaluasi TBC) sebagai alat pemantauan individual pasien.

– Evaluasi bulanan dan triwulanan lintas sektor.

– Penyuluhan dan konseling guna menghapus stigma terhadap pasien TBC.

Program ini juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui edukasi rutin dan investasi kontak erat terhadap pasien. Harapannya, pasien TBC tidak hanya disiplin minum obat, tapi juga merasa didukung dan tidak didiskriminasi oleh lingkungan sekitar.

“Semoga inovasi ini dapat menginspirasi dan memberi dampak luas dalam menurunkan angka kasus TBC, khususnya di Bogor Selatan. TBC bisa disembuhkan asal pengobatannya tepat dan konsisten,” tutup dr. Maria. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *