KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah Indonesia secara resmi menyatakan keprihatinan dan penyesalan mendalam atas serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran. Menanggapi situasi yang kian mencekam di Timur Tengah, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kesiapan Indonesia untuk mengambil peran aktif sebagai mediator perdamaian guna meredam eskalasi konflik tersebut.
Dalam keterangan resminya, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menekankan bahwa kekerasan bersenjata hanya akan memperburuk krisis kemanusiaan dan mengancam stabilitas ekonomi global. Indonesia mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan.
“Jika diperlukan dan diminta oleh pihak-pihak terkait, Indonesia siap menjadi jembatan dialog untuk mencari solusi damai,” ujar Kemenlu.
Langkah diplomasi ini mencerminkan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak, posisi Indonesia dinilai strategis untuk memfasilitasi komunikasi antara Teheran dan pihak Barat.
Pemerintah juga menginstruksikan Kementerian Luar Negeri untuk terus memantau keselamatan warga negara Indonesia (WNI) di kawasan terdampak. Fokus utama saat ini adalah mencegah pecahnya perang terbuka yang lebih luas melalui jalur diplomasi multilateral di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sementera, Kedubes Iran di Indonesia menyikapi serangan AS dan Israel tersebut dengan menyebut sebagai wujud pelanggaran kedaulatan negara.
“Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, dalam suatu tindakan agresi lainnya, telah melakukan serangan terhadap lokasi-lokasi sipil dan infrastruktur vital di Tehran serta beberapa kota lainnya, sehingga melanggar integritas teritorial dan kedaulatan nasional Republik Islam Iran,” demikian disampaikan Sabtu 28 Februari 2026. (*)

