Jepang kemudian menyingkirkan Yordania lewat adu penalti dan mengalahkan Korea Selatan 1-0 di semifinal.
Dari lima pertandingan, Jepang telah mencetak 12 gol, terbanyak di turnamen, dan baru kebobolan satu kali.
Gaya bermain berbasis penguasaan bola, teknik individu tinggi, serta kerja sama jarak pendek menjadi ciri khas tim termuda di kompetisi ini, dengan rata-rata usia hanya 20,1 tahun dan mayoritas pemain kelahiran pasca-2005.
Gelandang Ryunosuke Sato menjadi top skor tim dengan tiga gol, disusul Shusuke Furuya dan Yusho Ozeki yang masing-masing mencetak dua gol.
Pelatih Jepang, Tsuyoshi Oiwa, menegaskan bahwa kekuatan timnya terletak pada kedalaman skuad dan kontribusi merata para pemain.
Menghadapi Jepang, Antonio diperkirakan tetap setia pada pendekatan pragmatis. Skema bertahan rapat dengan transisi cepat dinilai lebih realistis ketimbang adu penguasaan bola.


