Ariston Tjendra, seorang pengamat pasar uang, menjelaskan bahwa sentimen negatif terkait kebijakan tarif tersebut memicu pelaku pasar untuk menarik diri dari aset berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman.
Selain itu, data tenaga kerja nonfarm payrolls AS yang lebih baik dari proyeksi juga memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.
Danpak terhadap ekonomi
Pelemahan nilai tukar rupiah ini dapat berdampak luas pada perekonomian Indonesia.
Kenaikan harga barang impor akibat melemahnya rupiah dapat mempengaruhi daya beli masyarakat dan meningkatkan inflasi.
Selain itu, barang-barang yang diekspor ke AS bisa menjadi lebih mahal, sehingga menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah dan tembusnya angka Rp 17.200 per dolar AS, situasi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pelaku ekonomi.
Diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengatasi tekanan ini dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

