Berita UtamaNews

Donald Trump Kembali Jadi Presiden AS, Tantangan Baru untuk Demokrasi dan Hubungan Internasional

×

Donald Trump Kembali Jadi Presiden AS, Tantangan Baru untuk Demokrasi dan Hubungan Internasional

Sebarkan artikel ini
FotoJet 13 1
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

KITAINDONESIASATU.COM – Donald Trump terpilih kembali sebagai presiden AS, sebuah pencapaian luar biasa empat tahun setelah ia kalah dalam pemilu dan keluar dari Gedung Putih.

Kepemimpinannya diharapkan akan membawa dinamika baru yang menantang institusi-institusi demokrasi domestik serta memperkuat hubungan internasional.

Trump yang kini berusia 78 tahun berhasil meraih lebih dari 270 suara Electoral College yang diperlukan pada Rabu. Ia tercatat memenangkan suara di Wisconsin yang menjadi penentu kemenangannya atas Kamala Harris.

Pada pukul 5:45 pagi ET, Trump sudah memperoleh 279 suara elektoral dibanding Harris yang mendapat 223, meskipun beberapa suara di negara bagian lainnya masih dalam proses penghitungan. Trump juga unggul dalam suara populer dengan selisih sekitar 5 juta suara dari Harris.

Baca Juga  Donald Trump Curhat di Truth Social: "Saya Benci Taylor Swift!"

Dalam pidato di depan pendukungnya di Palm Beach County Convention Center, Florida, Trump menyatakan bahwa rakyat Amerika telah memberinya mandat kuat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keberhasilannya ini menandai kebangkitan setelah sempat diperkirakan berakhir karena klaim penipuan pemilu yang memicu kerusuhan 6 Januari 2021 di Gedung Capitol.

Meski menghadapi berbagai tuntutan hukum dan kontroversi, Trump berhasil mengatasi lawan-lawan di Partai Republik dan memenangkan pemilih atas Harris dengan memanfaatkan kekhawatiran masyarakat terkait inflasi serta isu keamanan yang ia kaitkan dengan imigrasi ilegal.

Baca Juga  Kemenangan Donald Trump Guncang Ekonomi Dunia ?

Harris, yang berkampanye selama 15 minggu, gagal menarik dukungan untuk mengalahkan Trump maupun meyakinkan pemilih tentang isu ekonomi dan keamanan yang menjadi perhatian utama rakyat.

Dukungan bagi Trump juga berasal dari kelompok pemilih Hispanik dan masyarakat berpenghasilan rendah yang merasakan dampak dari tingginya inflasi.

Dalam programnya, Trump telah berjanji untuk meluncurkan kampanye deportasi massal bagi imigran ilegal, memperketat kebijakan perdagangan terhadap Tiongkok dan sekutu-sekutu AS, serta melakukan pemotongan pajak perusahaan yang dapat berdampak pada utang negara.

Pada sisi pemerintahan, Trump menegaskan niatnya untuk merombak birokrasi, memberikan wewenang besar dalam mengatur pegawai negeri, dan memperkuat kesetiaan di lembaga eksekutif.

Baca Juga  Mudik Gratis Lebaran 2026: Pemprov Jateng Siapkan 342 Bus dan 17 Kereta untuk Perantau

Selama kampanye, Trump menghadapi dua upaya pembunuhan dan serangkaian kritik dari tokoh Demokrat, termasuk Harris yang mengkhawatirkan retorikanya yang dinilai berpotensi memperdalam polarisasi dalam masyarakat AS.

Setelah dilantik pada 20 Januari, Trump dan Wakil Presiden JD Vance diharapkan menjalankan agenda-agenda yang sebelumnya tertunda dalam upayanya memperkuat basis pendukung dan merombak berbagai kebijakan yang telah ada.- ***

Sumber: Reuters

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *