KITAINDONESIASATU.COM – Langkah kontroversial kembali dilakukan Israel. Otoritas setempat melarang pelaksanaan sAlat Idul Fitri di kompleks suci Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, dengan dalih alasan keamanan di tengah memanasnya konflik dengan Iran.
Keputusan ini langsung memicu gelombang seruan dari warga Palestina. Mereka mengajak umat Muslim untuk tetap memadati kawasan Kota Tua dan melaksanakan salat Idul Fitri sedekat mungkin dengan Al-Aqsa—simbol suci penutup Ramadan yang kini dikunci.
Situasi makin mencekam. Sebelumnya, aparat Israel dilaporkan bertindak keras dengan memukul mundur jemaah menggunakan pentungan, granat kejut, hingga gas air mata saat warga nekat beribadah di luar tembok Kota Tua sebagai bentuk perlawanan atas penutupan akses ke Al-Aqsa selama Ramadan.
Alih-alih semarak hari kemenangan, Yerusalem Timur justru berubah jadi kota sunyi penuh duka. Kawasan Kota Tua yang biasanya lautan manusia menjelang Lebaran kini tampak lengang bak kota mati—mencekam dan tak biasa.
Tak hanya itu, pembatasan ketat juga menghantam ekonomi lokal. Israel melarang aktivitas kerumunan dan menutup hampir seluruh toko milik warga Palestina. Hanya apotek dan toko kebutuhan pokok yang diizinkan buka.
Para pedagang pun menjerit. Sejumlah warga Palestina mengaku tekanan ekonomi makin berat akibat kebijakan ini. Namun mereka memilih bungkam soal identitas, khawatir akan adanya tindakan balasan dari otoritas Israel.
Situasi di Yerusalem Timur kini benar-benar di ambang krisis—Idul Fitri yang seharusnya penuh sukacita berubah menjadi momen penuh ketegangan dan keprihatinan mendalam. (Sumber: Anadolu)
