KITAINDONESIASATU.COM – Tren digitalisasi keuangan di Indonesia mencatatkan rekor baru yang fantastis. Nilai transaksi ekonomi dan keuangan digital atau non-tunai pada tahun 2024 di tanah air telah menembus angka Rp 6.700 triliun. Angka ini mencerminkan pergeseran masif perilaku masyarakat yang kini semakin meninggalkan uang kartal demi kemudahan akses digital.
Sebagai gambaran betapa besarnya nilai tersebut, nominal Rp 6.700 triliun setara dengan pengadaan sekitar 1,6 miliar unit sepeda listrik kelas menengah.
Angka ini merupakan kesimpulan dari Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) bersama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia meluncurkan Kajian Perdagangan Digital Indonesia yang membahas ekosistem perdagangan digital Indonesia.
Perbandingan unik ini memberikan perspektif bagi publik mengenai skala likuiditas digital yang berputar di dalam ekosistem ekonomi nasional, mulai dari penggunaan QRIS, mobile banking, hingga platform e-commerce.
Wakil Sekretaris Jenderal UNCTAD, Pedro Manuel Moreno dalam pernyataannya, Kamis (12/2/2026), menyatakan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh perluasan akseptansi digital di sektor UMKM serta meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap keamanan sistem pembayaran non-tunai.
Penggunaan QRIS yang semakin inklusif hingga ke pasar tradisional menjadi motor utama di balik lonjakan volume transaksi tersebut. Meski demikian, tantangan keamanan siber dan pemerataan akses internet di wilayah pelosok tetap menjadi fokus utama pemerintah.(*)
