KITAINDONESIASATI.COM – PAUS Leo XIV menutup kunjungan tiga harinya ke Libanon dengan seruan keras yang mengejutkan dunia, hentikan perang Israel–Hizbullah serta akhiri perpecahan yang mengoyak Timur Tengah selama puluhan tahun. Dalam misa akbar yang membeludak hingga 150.000 jemaat di tepi Laut Beirut, Paus menyerukan pendekatan baru menuju perdamaian.
Tiba pada Minggu (30/11) usai lawatan ke Turki, Paus Leo disambut penuh haru oleh warga Libanon yang masih terpuruk akibat krisis ekonomi dan trauma perang tahun lalu. Ketegangan di perbatasan membuat banyak orang takut, perang bisa meledak kapan saja.
Meski gencatan senjata diteken pada November 2024, Israel tetap melancarkan serangan ke wilayah Libanon beberapa Minggu terakhir. Uniknya, tak ada serangan terjadi selama kunjungan Paus. Di sisi lain, Hizbullah tidak melakukan serangan sejak gencatan berlaku.
Dalam kondisi serba panas ini, Paus menyerukan pesan yang menggema ke seluruh dunia, “Dengarkanlah jeritan rakyat yang mendambakan perdamaian.”
Ia mendesak para pemimpin politik, sosial, dan militer untuk menghentikan permusuhan dan membuka babak baru rekonsiliasi.
“Senjata mematikan. Dialog menyembuhkan. Pilihlah perdamaian sebagai jalan, bukan hanya tujuan,” tegasnya sebelum terbang meninggalkan Beirut.
Harapan untuk Libanon
Di tengah misa, Paus Leo menyapa jemaat, pejabat tinggi, hingga Presiden Joseph Aoun, satu-satunya presiden beragama Kristen di dunia Arab.
“Paus memberi kedamaian di hati kami,” ujar Samira Khoury, satu dari ratusan ribu umat yang hadir.
Ia juga menguatkan komunitas Kristiani yang terus menyusut jumlahnya.
“Umat Kristen Levant, kalian memiliki keberanian. Seluruh Gereja memandang kalian dengan kasih dan kagum.”
Sebelum misa, Paus menyempatkan diri berdoa di lokasi ledakan Pelabuhan Beirut 2020—salah satu ledakan non-nuklir terbesar dunia—yang menewaskan 220 orang dan melukai lebih dari 6.500 lainnya. Paus bertemu para penyintas yang memegang foto orang-orang yang mereka cintai. (*)

