KITAINDONESIASATU.COM – Tenaga Kerja Indonesia (TKI) secara tidak langsung telah berkontribusi signifikan terhadap pemasukan devisa negara melalui remitansi.
Remitansi, –seperti dijelaskan di laman sikapiuangmu.ojk.go.id– adalah layanan pengiriman uang yang dilakukan oleh pengirim dari dalam negeri ke luar negeri atau sebaliknya.
Dalam konteks TKI, remitansi yang dimaksud adalah pengiriman uang dari negara tempat mereka bekerja ke Indonesia, yang dikenal sebagai remitansi masuk (inward remittance).
Dana yang dikirim oleh TKI ini biasanya digunakan oleh keluarga mereka di tanah air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti berbelanja atau bahkan sebagai modal usaha.
Dengan adanya aliran dana tersebut, negara mendapatkan keuntungan tidak langsung melalui perputaran ekonomi yang terjadi.
Salah satu penyumbang terbesar devisa adalah warga dari Kampung Kapunten Majalengka Jawa Barat.
Kampung ini dikenal sebagai tempat tinggal mayoritas Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya tenaga kerja wanita (TKW), yang telah bekerja di luar negeri sejak tahun 1990-an.
Dari keringat merekalah devisa kita sedikit demi sedikit merangkak naik.
Kampung Kapuntren juga dikenal karena warganya menerima warisan multibahasa.
Pengalaman para TKW di negara-negara seperti Arab Saudi, Taiwan, Hong Kong, hingga beberapa negara Eropa memberikan mereka kesempatan untuk mempelajari bahasa asing.
Kemampuan ini kemudian diwariskan kepada generasi penerus di kampung halaman.
Tak mengherankan jika saat ini hampir seluruh warga Kaputren mampu berkomunikasi dalam delapan bahasa asing, seperti Arab, Mandarin, Taiwan, Hong Kong, Korea, hingga Jepang.
Kemampuan ini tidak hanya dimiliki oleh para mantan TKW, tetapi juga diteruskan kepada generasi muda serta keluarga mereka yang terus melatih dan mempertahankan keterampilan tersebut.
Kemampuan berbahasa asing itu berkembang melalui interaksi sehari-hari, terutama dalam komunikasi dengan warga yang pernah bekerja di luar negeri.
Pencapaian ini membawa dampak positif bagi desa tersebut. Selain menjadi kebanggaan, keterampilan bahasa ini memberikan manfaat ekonomi, terutama dengan banyaknya turis yang berkunjung.
Pelaku usaha lokal, mulai dari pedagang makanan hingga penyedia jasa, mampu berkomunikasi lancar dalam berbagai bahasa asing, membuka peluang yang lebih besar untuk menjalin relasi dengan dunia luar.
Transformasi Kampung Kaputren sebagai desa dengan warga yang mahir berbahasa asing berawal dari krisis moneter tahun 1998, yang mendorong banyak warganya mencari pekerjaan di luar negeri.
Awalnya, sebagian besar bekerja sebagai penjahit di Arab Saudi, sebelum kemudian beralih menjadi pekerja rumah tangga (PRT) di berbagai negara.
Selain mengirimkan uang ke kampung halaman, para TKW ini juga membawa keahlian bahasa yang akhirnya menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari di desa tersebut.
Kini, Kampung Kaputren menjadi simbol adaptasi dan kemajuan, di mana keterampilan bahasa dan perkembangan ekonomi berpadu, menjadikannya desa yang kaya akan warisan budaya global.- ***

