KITAINDONESIASATU.COM – Jakarta kembali mencatatkan kabar manis di tengah tekanan ekonomi nasional. Jumlah penduduk miskin di Ibu Kota menyusut tajam. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menunjukkan, pada September 2025 angka kemiskinan turun menjadi 439,12 ribu orang, berkurang 25,75 ribu orang hanya dalam enam bulan dibandingkan Maret 2025.
Tak cuma soal jumlah, persentase kemiskinan Jakarta ikut meluncur. Dari sebelumnya 4,28 persen, kini turun menjadi 4,03 persen. Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menegaskan capaian ini menjadi level kemiskinan terendah sejak pandemi COVID-19 menghantam ekonomi.
“Meski belum sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum pandemi, tren ini menunjukkan pemulihan ekonomi Jakarta berjalan nyata dan berdampak langsung pada penurunan kemiskinan,” ujarnya.
Jika ditarik ke belakang, penurunan ini bukan kejutan sesaat. Pada September 2024, kemiskinan Jakarta tercatat 4,14 persen, lalu terus menurun hingga 2025. Trennya konsisten, arahnya jelas turun.
Lebih mencengangkan lagi, Jakarta kini masuk tiga besar provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah di Indonesia, hanya kalah dari Bali (3,42 persen) dan Kalimantan Selatan (3,73 persen). Posisi ini relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir, menegaskan status Jakarta sebagai daerah dengan daya tahan ekonomi kuat.
Di saat yang sama, angka kemiskinan nasional masih berada di level 8,25 persen, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 23,36 juta orang. Artinya, jarak antara Jakarta dan rata-rata nasional masih terpaut cukup jauh.
Namun ada sisi lain yang tak kalah penting. Garis kemiskinan Jakarta justru naik tajam. Pada September 2025, garis kemiskinan mencapai Rp897.768 per kapita per bulan, meningkat 5,28 persen dibandingkan Maret 2025. Dengan rata-rata satu rumah tangga miskin berisi 5,1 orang, maka kebutuhan minimum per rumah tangga miskin di Jakarta kini tembus Rp4,57 juta per bulan.
Kabar baiknya belum berhenti. Ketimpangan pengeluaran juga ikut menyempit. Gini rasio Jakarta turun dari 0,441 menjadi 0,423, menandakan jurang antara si kaya dan si miskin perlahan mengecil. (*)


