KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. China disebut-sebut mulai mempertimbangkan memberikan dukungan kepada Iran, mulai dari bantuan finansial hingga komponen penting terkait teknologi rudal. Kabar mengejutkan ini diungkap dalam laporan eksklusif CNN pada Jumat (6/3).
Mengutip tiga sumber yang mengetahui perkembangan tersebut, laporan itu menyebut Beijing selama ini berhati-hati agar tidak terlibat langsung dalam konflik sengit antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Namun para pejabat di Washington kini mulai memantau sinyal perubahan sikap China yang berpotensi mengubah peta kekuatan konflik.
Selama ini, China dikenal sebagai pembeli terbesar minyak mentah Iran, menjadikan hubungan ekonomi kedua negara sangat strategis. Beijing bahkan disebut telah meminta Teheran memastikan keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global.
Meski begitu, sumber intelijen mengatakan China bergerak sangat hati-hati. Dukungan terbuka kepada Iran dinilai bisa mengancam stabilitas pasokan energi Beijing sendiri, sehingga setiap langkah dipertimbangkan secara strategis.
Tak hanya China, laporan tersebut juga menyebut Rusia diduga ikut membantu Iran dengan membagikan citra satelit serta data intelijen penargetan, termasuk informasi terkait posisi dan pergerakan pasukan Amerika Serikat di kawasan. Meski demikian, Central Intelligence Agency (CIA) menolak memberikan komentar atas laporan tersebut.
Situasi semakin genting setelah pekan lalu enam tentara Amerika Serikat tewas dan beberapa lainnya terluka akibat serangan drone Iran di Kuwait.
Sejak konflik memuncak, Iran dilaporkan telah meluncurkan ribuan drone tempur dan ratusan rudal yang menargetkan pangkalan militer Amerika, fasilitas diplomatik, hingga berbagai sasaran strategis lainnya.
Di sisi lain, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel juga menghantam lebih dari 2.000 target di Iran, memperparah eskalasi konflik yang kini disebut-sebut sebagai krisis terbesar di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.
Ketegangan meningkat tajam sejak operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv pada Sabtu lalu, yang menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi, serta sejumlah pejabat militer senior Iran.
Sebagai balasan, Iran terus menggempur target-target militer dan diplomatik Amerika di berbagai negara kawasan, sekaligus menyerang sejumlah kota di Israel dengan gelombang rudal dan drone yang terus meningkat. (Sumber: Anadolu)


