KITAINDONESIASATU.COM-Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan area yang sebelumnya terpapar radioaktif Cesium-137 di Kawasan Industri Modern Cikande dalam kondisi aman.
Kepala Pusat Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Maman Kartaman, mengungkapkan, lapak A dengan tingkat kontaminasi tertinggi menjadi perhatian utama dalam pembersihan paparan radiasi. “Sebelum dibersihkan, paparan mencapai 1.200 mikrosievert per jam. Sekarang tinggal sekitar 0,3 sampai 0,4 mikrosievert,” katanya di lokasi paparan radioaktif di Kawasan Modern Cikande, kemarin.
Material sisa peleburan yang terkontaminasi telah diangkut ke PT Peter Metal Technology (PMT) di kawasan industri sebagai tempat penyimpanan sementara sebelum ditindaklanjuti lebih jauh. “Lokasi paling parah ada di pojok kiri belakang lapak, tumpukan logam bekas peleburan. Setelah pembersihan, paparannya turun menjadi sekitar 0,3 mikrosievert,” ujar Maman.
Saat ini, tambah Maman, rata-rata tingkat radiasi di sekitar Lapak A hanya sekitar 0,5 mikrosievert per jam, jauh di bawah ambang bahaya.
Proses dekontaminasi melibatkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Gegana, Satuan Kimia Biologi Radioaktif dan Nuklir (KBRN) Brimob Polri, BRIN, dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). “Kegiatan dipimpin langsung oleh Pak Menteri KLH, Hanif Faisol Nurofik,” ujarnya.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofik mengungkapkan bahwa sumber cemaran Cesium-137 bukan dari Indonesia. “Karena Indonesia tidak memiliki reaktor nuklir. Besar kemungkinan material ini masuk tanpa terkontrol dari luar negeri,” tegasnya.
Pemerintah akan menuntaskan penanganan kasus cemaran radioaktif ini. “Kita serius menangani kasus perncemaran ini, karena bahan ini berbahaya dan tidak seharusnya berada di lingkungan terbuka,” ujar Hanif.
Pada bagain lain, Menteri LH mengimbau masyarakat agar menanam bunga matahari sebagai upaya pengurangan paparan radiasi Cesium-137 di area terdampak cemaran radioaktif di Kabupaten Serang.
Kata Hanif, para ahli meyakini tanaman bunga matahari mampu menyerap dan mereduksi paparan radiasi dari radionuklida di sekitar wilayah paparan industri Cikande. “Saran para ahli, lokasi di sekitar sini (Cikande) diminta untuk ditanami bunga matahari sebagai vegetasi peredam radiasi. Itu yang akan terus kita lakukan,” katanya. (*)

