KITAINDONESIASATU.COM – Penantian panjang yang menguras tenaga dan emosi akhirnya berujung kepastian. Tim SAR Gabungan berhasil menemukan korban terakhir kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan ekstrem Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Jumat (23/1) pagi.
Mengutip keterangan Tim Media Presiden yang diterima di Jakarta, Sabtu (24/1), dengan penemuan ini maka seluruh korban berjumlah 10 orang resmi dinyatakan telah ditemukan, setelah tujuh hari operasi pencarian yang penuh risiko dan tantangan berat.
Korban terakhir ditemukan sekitar pukul 09.16 Wita oleh Tim Elang 5 Yonif 700 Raider Kodam XIV/Hasanuddin, yang tergabung dalam operasi SAR terpadu di medan paling berbahaya.
Lokasi penemuan berada di tebing curam yang langsung berbatasan dengan aliran air pegunungan—area yang sejak awal menjadi titik paling menakutkan sekaligus tersulit bagi tim evakuasi.
Sejak hari pertama, Pegunungan Bulusaraung dikenal sebagai medan ekstrem yang nyaris tak terjangkau. Lereng terjal, jurang dalam, serta bongkahan batu besar di sepanjang tebing membuat proses pencarian tak bisa dilakukan dengan cara biasa.
Tim SAR terpaksa mengandalkan teknik khusus berisiko tinggi demi menjangkau titik jatuh pesawat dan lokasi korban. Dalam sejumlah momen krusial, personel bahkan harus bergelantungan di helikopter, lalu turun perlahan menggunakan tali penyelamat untuk menaklukkan tebing curam.
Setiap langkah dilakukan dengan perhitungan presisi, karena satu kesalahan kecil bisa berujung fatal—bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi para petugas penyelamat.
Evakuasi korban dan serpihan pesawat dilakukan dengan metode penarikan tali, sebelum diangkat secara bertahap ke helikopter. Medan sempit dan licin memaksa tim bekerja ekstra hati-hati, bahkan harus berhenti berkali-kali demi memastikan pijakan aman di antara batu-batu rawan longsor.
Belum cukup sampai di situ, cuaca pegunungan yang berubah drastis turut menguji ketahanan fisik dan mental tim SAR. Kabut tebal kerap turun tiba-tiba, membatasi jarak pandang, sementara hujan membuat permukaan tebing semakin licin dan berbahaya.
Meski menghadapi rintangan alam yang ekstrem, semangat dan dedikasi Tim SAR Gabungan tak pernah goyah. Hingga akhirnya, seluruh korban serta properti penting pesawat ATR 42-500 berhasil ditemukan, menandai akhir dari operasi kemanusiaan yang menegangkan. (*)



