Pemerintah AS menyebut serangan terbaru sebagai langkah defensif untuk mencegah ancaman lebih lanjut terhadap personel dan aset militernya.
Di sisi lain, Iran mengecam keras operasi militer tersebut.
Otoritas Iran mengklaim serangan AS turut merusak infrastruktur sipil, termasuk fasilitas penyimpanan air di wilayah Sirik yang berdampak pada pasokan air bagi ribuan warga.
Teheran juga menegaskan bahwa tindakan Amerika berisiko memperburuk situasi keamanan regional.
Sebagai respons, Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah lokasi yang terkait dengan kepentingan militer Amerika di kawasan Teluk, termasuk pangkalan di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Namun, sebagian serangan tersebut disebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara AS dan negara-negara sekutunya.
Situasi ini semakin memperbesar kekhawatiran dunia internasional terhadap kemungkinan pecahnya konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah negara mediator terus mendorong kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

