KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan Amerika Serikat–Iran kembali memanas. Senator AS Lindsey Graham melontarkan peringatan keras bahwa Presiden Donald Trump disebut siap mengambil langkah ekstrem terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei bila pemerintah Teheran terus melakukan tindakan brutal terhadap warga yang turun ke jalan menuntut kehidupan lebih layak.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa (6/1), Graham menyampaikan ancaman terbuka yang langsung mengundang sorotan global. Ia menegaskan bahwa penindasan terhadap rakyat Iran akan berujung pada konsekuensi serius dari Washington.
“Kepada para Ayatollah, kalian harus paham, jika kalian terus membunuh rakyat sendiri yang menuntut kehidupan lebih baik, Donald J. Trump akan membunuh kalian,” ujar Graham.
Graham bahkan menyebut bahwa perubahan besar akan datang ke Iran, yang ia gambarkan sebagai salah satu pergeseran paling dramatis dalam sejarah Timur Tengah, dengan tujuan menyingkirkan rezim yang ia samakan dengan rezim Nazi. Kepada rakyat Iran, ia mengklaim bantuan sedang menuju.
Iran sendiri tengah diguncang gelombang protes besar-besaran dalam beberapa pekan terakhir. Krisis ekonomi yang kian parah, merosotnya nilai tukar rial hingga menembus 1.350.000 per dolar AS, serta tekanan hidup yang meningkat memicu kemarahan publik di berbagai kota.
Sejumlah laporan menyebutkan bentrok berdarah telah terjadi, dengan korban jiwa dari kalangan pengunjuk rasa maupun aparat kepolisian. Situasi ini mempertebal sorotan internasional terhadap respons pemerintah Iran.
Peringatan keras dari Graham muncul setelah Ayatollah Khamenei mengakui bahwa sebagian tuntutan pengunjuk rasa bersifat wajar. Namun, ia menegaskan bahwa aksi kerusuhan tidak akan ditoleransi oleh negara.
Di tengah tekanan yang meningkat, pemerintah Iran menggelar beberapa putaran dialog dengan perwakilan pedagang dan pemilik toko untuk meredam eskalasi, terutama di Teheran, yang disebut menjadi titik terburuk krisis.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa Washington akan datang menyelamatkan para pengunjuk rasa jika Teheran menggunakan kekuatan mematikan. Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras dari pejabat tinggi Iran dan memperuncing konflik retorika kedua negara. (Sumber: Anadolu)


