Berita Utama

Analisa Bisnis: Mengapa Tupperware Bangkrut ?

×

Analisa Bisnis: Mengapa Tupperware Bangkrut ?

Sebarkan artikel ini
Rektor INABA Bandung, Dr. Mochammad Mukti Ali, S.T., M.M.
Rektor INABA Bandung, Dr. Mochammad Mukti Ali, S.T., M.M.

Konsistensi. Konsistensi dalam memberikan produk berkualitas, menjaga reputasi brand/merek, dan menjalankan model bisnis inti mereka (penjualan langsung) sangat penting. Setiap inkonsistensi di area ini dapat mengikis kepercayaan pelanggan dan loyalitas brand/ merek dari waktu ke waktu, hal ini terjadi pada Tupperware. Tupperware tidak berjuang untuk mempertahankan pesan yang konsisten, strategi saluran, dan posisi pasar yang sudah dilakukan.

Pemasaran Tupperware yang tidak konsisten menyebabkan banyak pesan yang tidak selaras di seluruh saluran tradisional dan digital. Tupperware mencampur aduk penjualan langsung dengan kemitraan ritel tanpa strategi yang konsisten sehingga membingungkan pelanggan dan perwakilan penjualan sehingga menyebabkan penjualan langsungnya turun tajam, terutama selama COVID-19.

Akibat terburuk dari tidak konsisten dalam menjalankan Fokus strategi dan Keunikan produk, dapat membuat penurunan pengalaman merek dan kualitas layanan menyebabkan hilangnya kepercayaan dan loyalitas dari konsumen.

Ketahui/ Mengenal Pelanggan Anda. Memahami kebutuhan, preferensi, dan perilaku pembelian pelanggan sangat penting untuk mempertahankan kesuksesan jangka panjang. Perubahan tren konsumen, preferensi untuk keberlanjutan, atau pergeseran kebiasaan berbelanja (misalnya, belanja offline melalui penjualan langsung bergeser menjadi belanja online) dapat memengaruhi kemampuan Tupperware untuk terhubung dengan audiens target mereka secara efektif.

Tupperware gagal berkembang dengan basis pelanggan mereka. Demografis utama mereka menua, dan konsumen yang lebih muda memiliki harapan yang berbeda. Milenial dan Gen Z lebih menyukai belanja online, minimalis, ramah lingkungan, dan pengiriman instan dibandingkan dengan pertemuan secara offline yang selalu dilakukan oleh Tupperware memakan waktu, ketinggalan zaman, dan tidak sesuai dengan gaya hidup modern.

Adopsi media sosial dan pemasaran influencer yang buruk dibandingkan dengan merek pesaing yang lebih baru seperti Our Place atau Caraway. Akibatnya, hubungan emosional dan budaya yang telah dibangun oleh Tupperware dengan tradisional pemasaran menjadi hilang dan tidak bisa menarik generasi muda untuk menjadi konsumen karena kurangnya personalisasi di saluran modern/ digitalisasi dalam pemasaran.

4(keempat) elemen tersebut menyebabkan strategi penetapan harga yang dilakukan oleh Tupperware sudah tidak sesuai dengan pasar yang ada. Tupperware menggunakan strategi penetapan harga premium yang melebihi dari kualitas, inovasi, dan eksklusivitas produk yang ditawarkan.

Harga premium yang ditawarkan oleh Tupperware tidak diikuti oleh persepsi produk yang premium. Sehingga produk pengganti dari pesaing menjadi lebih murah dan lebih mudah diakses, proposisi nilai Tupperware tidak sesuai dengan harga yang ditawarkan.

Mencampur adukkan penjualan langsung dengan platform ritel dan online dapat menciptakan konflik penetapan harga pada distributor dan inkonsistensi harga, terkadang melemahkan agen/distributor penjualan, sehingga konsumen lebih banyak membeli produk peasing yang mempunyai harga lebih pasti.

Brand pesaing dengan produk baru selalu menggunakan strategi penetrasi harga dimulai dengan harga masuk yang lebih rendah untuk menarik pembeli pertama kali. Akan tetapi Tupperware tidak mampu membaca kondisi tersebut untuk beradaptasi dengan cepat  merubah persepsi konsumen terkait harga dari produknya.

Singkatnya, kebangkrutan Tupperware dapat dikaitkan dengan kesalahan strategis seperti kehilangan Fokus pada kekuatan inti mereka, gagal mempertahankan Keunikan dalam penawaran mereka, inkonsistensi dalam kualitas produk atau eksekusi model bisnis, dan tidak beradaptasi secara efektif dengan preferensi pelanggan dan dinamika pasar yang terus berkembang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *