Makanya, Prabowo mengambil jalan ninja, “Akan dipelajari.”
Jalan diplomasi tingkat dewa, “Akan dikaji secara mendalam.”
Sambil berharap rakyat sibuk ngurusin harga beras dan bukan konstitusi.
Tapi yang paling sakral dari semuanya adalah satu kalimat dari Wiranto,“Jangan gaduh!”
Ah, ya. Kartu andalan bangsa ini. Kalau semua gagal, cukup bilang “jangan gaduh.” Seolah semua ini bukan tentang institusi, kekuasaan, atau masa depan republik, tapi sekadar obrolan tetangga yang terlalu keras.
Begitulah wak, episode ini pun ditutup. Para purnawirawan kembali ke markas, rakyat kembali ke FYP TikTok, dan Prabowo kembali menatap senja dengan kuda putih di latar belakang, berpikir keras, “Apa benar ini semua cuma karena satu pasal MK dan satu anak Solo?”
Kita tidak tahu. Tapi yang pasti, sejarah sedang menulis bab baru.
Seperti biasa, kita hanya bisa menyimak dari pinggir layar sambil bergumam, “Negara ini serius banget ya bikin plot twist. Mending Marvel belajar dulu dari DPR.***
Penulis, Ketua Satupena Kalbar




