Feature

Batik Ecoprint dan Pemberdayaan Wanita Dayak di Pedalaman Kalteng

×

Batik Ecoprint dan Pemberdayaan Wanita Dayak di Pedalaman Kalteng

Sebarkan artikel ini
ecoprint
Para wanita Dayak dipedalaman Kalteng memperlihatkan hasil karya ecoprint.

KITAINDONESIASATU.COM – Ada yang yang menarik perhatian dilakukan sekolompok perempuan bersama kepala desa dan perangkatnaya di gazebo dermaga Desa Karuing, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah, Sabtu (16/11/2024) lalu.

Mereka ada sekompok masyarakat suku Dayak mengikuti kegiatan training ecoprint yang digelar Borneo Nature Foundation (BNF) bersama Taman Nasional Sebagangu.

Acara ini sebagai baggian penguatan kapasitas masyarakat desa khususnya Karuing sebagai desa penyangga Taman Nasional.

Para wanita terlihat penuh semangat mengikuti pelatihan pembuatan desain ecoprint Zakiyah Handayani, seorang instruktur professional ecoprint atau teknik membuat motif daun di atas kain asal Sidoarjo, Jawa Timur ini.

Selama dua hari berturut-turut mereka akan belajar bagamana cara membersihkan kain sebelum dilakukan pemrosesan desain ecoprint.

Kemudian juga akan diajari bagai cara meletakkan berbagai jenis daun segar yang didapatkan dari tumbuhan lingkungan Desa Karuing di atas kain yang sudah disiapkan.

Selajutnya bagaiaman carai memproses pemberian warna dasar, kemudian cara pengukusan agar bentuk daun dengan detail menempel sempurna pada kain agar tidak luntur.

Suasana menjadi lebih seru ketika pada proses pengukusan kain, persis seperti mengukus nasi dalam proses ini dilakukan selama 2 jam selesai.

Proses selanjutnya membuka ikatan dari proses proses pengukusan yang membuat peserta terkagum-kagum akan keindahannya.

Bagaimana tidak lembaran kain katun polos sudah berubah dengan desain dan motif yang indah dari hasil tempelan motif daun yang ditempel sebelumnya.

Terjadi perubahan warna yang menakjubkan dari tempelan daun-daun di dalam kain polos dengan jejak warga yang berbeda-beda.

“Astaga kok bisa jadi seperti ini ya. Bener, kami tak mengira kalau proses sesederhana ini namun biasa mengghasilakan karya yang sangat artistik,” ujar salah satu peserta pelatihan Selawati (25).

Bahkan Kades Kariung, Supriadie juga sangat kagum dengan hasil yang didapatkan dari proses itu, maklum ia penasaran karena memang sejak awal hingga akhir menunggui acara ini.

Supriadie terlihat kekagumannya seolah tak percaya dengan hasilnya di luar dugaan dari yang sepele dan mudah di dapatkan menghasilkan karya luar biasa.

Ia tak menyangka bentuk dan ukuran setiap helai daun yang ditata secara acak diatas kain bisa menempel sangat indah seperti stempel warna.

“Luar biasa, kok bisa jadi indah seperti ini, ya? Di luar dugaan saya,” ujar Supriadie, Kades dengan wajah berkaca-kaca.

Potensi alam
Intruktur Zakiyah jika karya kerajinan semacam ini yang disebut teknik ecoprint sangat cocok dilakukan oleh warga Kariung untuk menjadikan kerajinan khas mereka.

Desa Kariung yang berada ditepian sungai Katingan ini memiliki sumber daya alam yang melimpah yang kaya akan aneka jenis pohon yang memiliki dedaunan yang unik.

Zakiyah mengatakan sesuai namanya, ecoprint merupakan teknik cetak yang menggunakan bahan alami, mulai daun bunga, sampai batang yang banyak dijumpai di lingungan kita.

Dijelaskan jika teknik ecoprint ini sangat ramah lingkungan karena tanpa bahan kimia, namun bahan utamanya tumbuhan yang ada di alam.

“Kalau memang ada bahan kimia tapi sangat kecil sekali prosentasenya. Dibading pemprosesan batik pada umumnya,” ujar Zakiyah yang sudah puluhan tahun menekuni berbagai teknik pembuatan kerajinan kain hingga mengajar di dalam dan luar negeri.

Wanita yang biasa dipanggil Heny itu mengajak perempuan Desa Kariung mengembangkan kerajinan ecoprint ini dengan sepenuh hati, karena bisa memberi nilai ekonomi keluarga.

Heny pun kemudian memberi gambaran contoh nilai ekonomi yang dihasilkan dari hasil kreatifitas ekoprint semacam ini.

Contohnya pembuatan selembar kain sepanjang 1 meter hanya membutuhkan produksi sekitar Rp125 ribu, namun setelah diproses begitu menjadi kain minimal bisa laku Rp250 ribu atau lebih.

“Hasilnya bisa lebih dari itu, semuanya tergantung kerapian dan kreatifitas dalam pengerjaannya. Desa ini memiliki potensi yang luar biasa mulai dari SDM hingga alamnya, namun tak dikembangkan,” ujar Heny.

Padahal menurut Heny jenis daun yang asal dari Desa Kariung bisa menjadi produk eksklusif, bisa dijadikan ciri khas motif desa ini, yang tak dimiliki daerah lain,” ujar Heny.

Jika ini dikembangkan, Heny menyakini kesejahteraan warga akan semkain meningkat, apalagi ecoprint bisa diterapkan di berbagai jenis bahan, selain di kain juga bisa pada gelas sebagai souvenir.

Sementara Kades Supriadie mengatakan akan mendukung warganya yang berminat mengembangkan kerajinan ecoprint seperti ini.

Dimana dengan kemampuan membuat produk ini Kades Supriadie berkeyakinan jika dilakukan sepenuh hati akan memberikan hasil yang baik.

“Saya mendukung penuh warga yang ingin mengembangkan ecoprint. Saya yakin jika dilakukan dengan penuh kesungguhan bisa dijadikan sebagai alternative penghasilan,” ujarnya.

Kades Supriadie mengatakan di Desa Kariung hingga saat ini memiliki sekitar 184 KK, sebagian besar bertapencarian mencari ikan di sungai Katingan.

Untuk itu dirinya akan mendorong warganya khususnya para ibu yang di rumah untuk terjun membuat kerajinan ecoprint, sebagai tambahan ekonomi keluarga.

Namun yang menjadi kendala jarak dari ibukota, Palangkaraya yang berjarak sekitar 150 km dan masih harus menyeberangi Sungai Katingan, ini menjadi pekerjaan rumah yang masih harus dipikirkan.

Koordinator pemberdayaan masyarakat Borneo Nature Foundation (BNF), Gugus Haringkas yang bertanggungjawab kegiatan pelatihan menjelaskan bahwa tujuan BNF mengadakan kegiatan ini sebagai salah upaya untuk meningkatkan keterampilan warga desa agar taraf ekonomi warga Kariung meningkat.

“Dengan ekonomi yang cukup diharapkan masyarakat yang berada di desa penyangga tidak memanfaatkan kawasan hutan tamana nsional Sebangau dengan melanggar hokum tetapi justru ikut menjaga keragam hayati yang ada dalam tamab nasional,” kata Gugus. (Gandhi Wasono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *