Desa Kita

Kamu Harus Tahu! Benarkah Suku Sunda, Berasal dari Taiwan?

×

Kamu Harus Tahu! Benarkah Suku Sunda, Berasal dari Taiwan?

Sebarkan artikel ini
Suku Sunda
Suku Sunda (Pic: Wikipedia)

Agama Masyarakat Sunda

Candi Cangkuang Candi Hindu abad ke 8 di Leles Garut Menjadi saksi masa lalu Hindu Sunda
Candi Cangkuang, Candi Hindu abad ke-8, di Leles Garut, Menjadi saksi masa lalu Hindu Sunda. (Pic: kostisolo.co.id)

Sistem keagamaan awal orang Sunda adalah animisme dan dinamisme dengan penghormatan kepada leluhur ( karuhun ) dan roh-roh alam yang diidentifikasi sebagai hyang , namun mengandung beberapa ciri panteisme . Indikasi terbaik ditemukan dalam puisi-puisi epik tertua ( wawacan ) dan di antara suku Baduy terpencil . Agama ini disebut Sunda Wiwitan (“Sunda awal”). Pertanian padi telah membentuk budaya, kepercayaan dan sistem ritual orang Sunda tradisional, antara lain penghormatan kepada Nyai Pohaci Sanghyang Asri sebagai dewi padi dan kesuburan.

Tanah orang Sunda di Jawa Barat adalah salah satu tempat paling awal di kepulauan Indonesia yang terpapar pengaruh Hindu-Buddha India. Tarumanagara diikuti oleh Kerajaan Sunda mengadopsi agama Hindu pada awal abad ke-4. Kompleks stupa Batujaya di Karawang menunjukkan pengaruh Buddha di Jawa Barat, sementara candi Cangkuang Siwa di dekat Garut menunjukkan pengaruh Hindu. Naskah suci abad ke-16 Sanghyang siksakanda ng karesian berisi aturan-aturan agama dan moral, bimbingan, aturan-aturan dan pelajaran bagi masyarakat Sunda kuno.

Sekitar abad ke-15 hingga abad ke-16, Islam mulai menyebar di antara orang Sunda oleh pedagang Muslim India, dan adopsinya dipercepat setelah jatuhnya Kerajaan Sunda Hindu-animisme dan berdirinya Kesultanan Islam Banten dan Cirebon di pesisir Jawa Barat. Banyak ulama (secara lokal dikenal sebagai ” kyai “) menembus desa-desa di daerah pegunungan Parahyangan dan mendirikan masjid dan sekolah ( pesantren ) dan menyebarkan agama Islam di antara orang Sunda.

Komunitas Sunda tradisional kecil mempertahankan sistem sosial dan kepercayaan adat mereka, mengadopsi isolasi yang dipaksakan sendiri, dan menolak pengaruh asing, proselitisme dan modernisasi sama sekali, seperti yang dimiliki orang Baduy (Kanekes) di pedalaman Kabupaten Lebak. Beberapa desa Sunda seperti di Cigugur Kuningan masih mempertahankan kepercayaan Sunda Wiwitan, sementara beberapa desa seperti Kampung Naga di Tasikmalaya dan Sindang Barang Pasir Eurih di Bogor, meskipun mengidentifikasi diri sebagai Muslim, masih menjunjung tinggi tradisi dan tabu pra-Islam serta memuja karuhun (roh leluhur). Saat ini, sebagian besar orang dari suku Sunda adalah Muslim Sunni.

Setelah Jawa Barat jatuh di bawah kendali Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) pada awal abad ke-18, dan kemudian di bawah Hindia Belanda, penginjilan Kristen terhadap orang Sunda dimulai oleh misionaris Genootschap voor In- en Uitwendige Zending te Batavia (GIUZ).

Organisasi ini didirikan oleh Tn. FL Anthing dan Pendeta EW King pada tahun 1851. Namun, Nederlandsche Zendelings Vereeniging (NZV) yang mengirim misionaris mereka untuk mengubah agama orang Sunda. Mereka memulai misi di Batavia, kemudian berkembang ke beberapa kota di Jawa Barat seperti Bandung , Cianjur , Cirebon , Bogor dan Sukabumi . Mereka membangun sekolah, gereja dan rumah sakit untuk penduduk asli di Jawa Barat. Dibandingkan dengan populasi Muslim Sunda yang besar, jumlah orang Sunda Kristen sedikit. Saat ini, orang Kristen di Jawa Barat sebagian besar adalah orang Indonesia Tionghoa yang tinggal di Jawa Barat, dengan hanya sejumlah kecil orang Kristen Sunda asli.

Selain agama yang dijadikan pandangan hidup, orang Sunda juga mempunyai pandangan hidup yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Pandangan hidup tersebut tidak bertentangan dengan agama yang dianutnya karena secara tersurat dan tersirat dikandung juga dalam ajaran agamanya, khususnya ajaran agama Islam. Pandangan hidup orang Sunda yang diwariskan dari nenek moyangnya dapat diamati pada ungkapan tradisional sebagai berikut:

“Hana nguni hana mangké, tan hana nguni tan hana mangké, aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang. Hana ma tunggulna aya tu catangna.” (Sanghyang Siksa Kandang Karesian)

Artinya: Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini, bila tak ada masa silam takan ada masa kini. Ada tunggak tentu ada batang, bila tak ada tunggak tak akan ada batang, bila ada tunggulnya tentu ada batangnya.

Ungkapan tradisional tersebut tidak jauh dengan amanat Bung Karno dalam pidato HUT Proklamasi 1996: “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala daripada masa yang akan datang.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *