Tradisi ini bukan sekadar atraksi—ia adalah bagian dari kearifan lokal, cara masyarakat mendekati alam secara harmonis tanpa merusak ekosistem.
Bagi wisatawan, momen ini menjadi tontonan yang memukau dan sering kali viral di media sosial.
Menurut survei Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih (2025), 78% pengunjung Pantai Bakaro menyebut tradisi memanggil ikan sebagai “pengalaman budaya paling autentik” yang pernah mereka saksikan.
Selain itu, penelitian Universitas Papua (2024) menunjukkan bahwa suara peluit bambu tidak mengganggu habitat ikan, karena frekuensinya mirip dengan suara alam bawah laut—sehingga tidak menimbulkan stres pada fauna laut.
Selain tradisi uniknya, destinasi ekowisata Papua Barat ini juga ramah lingkungan. Pemerintah daerah bekerja sama dengan komunitas adat setempat untuk menjaga kebersihan pantai, melarang sampah plastik, dan membatasi pembangunan infrastruktur yang merusak alam.
Pengunjung dianjurkan membawa botol minum isi ulang dan mengikuti jalur ekowisata yang telah ditetapkan.
Tidak ada bangunan tinggi atau hotel besar—yang ada hanya warung sederhana dari kayu kelapa dan gazebo alami dari daun nipah.



