Sebelum bencana, sungai di Palembayan mengalir dengan lebar normal dan arus yang terkendali.
Airnya menjadi sumber kehidupan—untuk pertanian, kebutuhan rumah tangga, hingga ruang bermain anak-anak desa.
Kini, gambaran itu tinggal kenangan, kontras dengan kondisi pascabencana yang mengubah lanskap secara drastis.
Palembayan dulu adalah potret harmoni antara manusia dan alam. Sebuah wajah Sumatera Barat yang tenang, hijau, dan penuh kehidupan—yang kini dikenang dengan rasa kehilangan mendalam.***


