KITAINDONESIASATU.COM – Di balik keindahan Jam Gadang, keramaian Pasar Ateh, dan panorama Ngarai Sianok, tersimpan akar sejarah yang mendalam: Nagari Kurai—nagari tua yang menjadi cikal bakal lahirnya Kota Bukittinggi.
Dulu, Kurai dikenal sebagai pakan (pasar tradisional Minangkabau) di atas perbukitan. Dari sanalah aktivitas perdagangan, sosial, dan adat masyarakat tumbuh, berkembang, dan akhirnya melahirkan identitas baru: Bukittinggi, yang secara harfiah berarti “bukit yang tinggi”.
Meski kini nama “Kurai” tak lagi dominan di peta administratif, jejak budayanya tetap hidup—terutama lewat Batu Kurai Limo Jorong dan Kelurahan Parit Antang, yang diakui sebagai jantung asli masyarakat Kurai.
Lima Jorong: Pilar Adat Nagari Kurai
Struktur sosial dan pemerintahan adat Kurai dibangun di atas lima jorong (wilayah adat), yang hingga kini diabadikan dalam Batu Kurai Limo Jorong:
Tigo Baleh
Wilayah yang dikenal sebagai pusat pertanian dan penghasil beras. Namanya merujuk pada tiga aliran sungai atau tiga bagian tanah subur yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.






