BisnisUMKM

Pria Banyuwangi Menyulap Limbah Plastik Menjadi Barang Wah

×

Pria Banyuwangi Menyulap Limbah Plastik Menjadi Barang Wah

Sebarkan artikel ini
daur ulang plastik
Bupati Ipuk Fiestiandani saat bersama Muhammad Soleh menjalani program Bunga Desa, Bupati Ngantor di desa itu, Selasa (3/8/2024).

KITAINDONESIASATU – Seorang perajin kreatif asal Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, boleh dibilang menjadi penyelamat lingkungan.

Dia bernama Muhammad Soleh yang mampu memproduksi pembuatan furnitur seperti meja kursi hingga pot tanaman yang dibuat dari hasil daur ulang plastik.

Anda bisa bayangkan banyak sekali sampah plastik saat ini bertebaran dimana-mana dan mencemari lingkungan kita.

Bahkan upaya penanggulangan sampah plastik tak pernah berhasil, produk plastik terus bertambah sementara penanggulangan sampah plastik tak seimbang dari banyaknya sampah yang ada.

Kerusakan lingkungan yang diakibatkan sampah plastik belum terselesaikan hingga sekarang, Anda bisa bayangkan plastik-plastik yang ada disekitar kita sangat lama bisa terurai dengan tanah bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun lamanya.

Dengan kreatifitas Muhammad Soleh ini, ia mampu menjadikan plastik-plastik daur ulang menjadi barang berguna untuk furniture rumah Anda.

Muhammad soleh memproduksi hasil karyanya itu melalui rumah produksi pembuatan furnitur Batu Indah Art berbahan dasar daur ulang limbah plastik.

Rumah produksi Batu Indah Art ini memproduksi berbagai macam jenis funitur mulai dari pot, meja, kursi, dan lainnya dengan kualitas ekspor.

Bahkan keberadaan rumah produksi ini membuat bangga dan memberikan kejutan bagi Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani saat menjalani program Bunga Desa, Bupati Ngantor di Desa itu, Selasa (3/8/2024).

“Ini sangat kreatif. Selain memiliki nilai ekonomi, juga turut menjaga lingkungan dengan mengurangi sampah plastik. Desainnya bagus. Selain itu ringan dan kuat,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Apalagi produk furnitur milik Muhammad Soleh tersebut telah beberapa kali dikirim ke luar negeri, seperti Australia dan beberapa negara di Eropa.

Ipuk sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Muhammad Soleh, karena sejalan dengan program Banyuwangi Hijau, yang berupaya mengurangi sampah plastik.

“Banyuwangi juga telah menggulirkan berbagai program untuk mengurangi sampah plastik,” kata Ipuk.

Apa yang dilakukan pria desa ini akan menjadi inspirasi dunia usaha, sekaligus turut serta melestarikan lingkungan dengan memanfaatkan sampah plastik.

“Mas Soleh ini bisa menjadi inspirasi bagi dunia usaha, untuk turut menjaga dan melestarikan lingkungan,” tambah Ipuk.

Muhammad Soleh sendiri menceritakan sejak kapan ia mengawali usahanya ini, ternyata sudah dilakukan cukup lama, ia mengawali usaha furniture sejak 2004 saat masih merantau di Bali.

Dia mengatakan jika dirinya, sebelum melakukan usaha itu bekerja di sebuah industri furnitur teraso sambil belajar, kemudian dia membuka usaha kecil-kecilan di Bali.

“Sebelumnya saya bekerja di industri furnitur teraso sambil belajar. Setelah punya ilmunya, saya coba membuka usaha kecil-kecilan di Bali. Saya juga tetap bekerja di tempat lain sambil mengumpulkan modal,” kata dia.

Kemudian sejak tahun 2020, Soleh mulai memindahkan rumah produksinya di Banyuwangi, tepatnya Desa Genteng Wetan yang merupakan tanah kelahirannya.

Sementara outlet penjualan yang utama tetap di berada di Bali, yang sekaligus menjadi etalasi untuk mempromosikan hasil karyanya itu kepada wisatawan di Bali.

Awalnya, Soleh hanya memproduksi pot dan bathtub dari teraso, kemudian terpikir untuk mulai memanfaatkan limbah botol plastik pengganti bahan teraso.

Lalu dia mulai mencoba memanfaatkan plastik untuk membuat rak, pot, set meja kursi dan lain-lain.

Selain memasok wilayah Bali, produk Soleh juga diminati pasar luar negeri. Seperti Australia dan beberapa negara di Eropa.

“Kalau produk dari daur ulang limbah plastik memang masih sekitar satu tahunan. Tapi mendapat respon yang baik dari konsumen. Alhamdulillah sampai saat ini produk kami masih diminati pasar. Penjualan juga terus meningkat,” urainya.

“Awalnya hanya punya satu orang pekerja, saat ini saya dibantu 20 orang pekerja untuk mengejar produksi,” imbuhnya.

Dari usahanya tersebut, Soleh mengaku bisa mendapat omset hingga puluhan juta per bulan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *