Sejak tahun 2007-an, warga Bondowoso sudah mulai menjual kopi luwak ke beberapa Coffe Shop di wilayah Jakarta, hingga produksi setiap tahun paling banyak 1 ton green bean kopi luwak.
Sejak saat itulah kemudian green bean kopi Arabika yang diolah biasa bisa terjual 50 ton per tahun pasar domestik dan luar negeri seperti ekspor ke Malaysia dan Vietnam dengan harga Rp3 juta per kg.
Yusriadi mengatakan setelah 17 tahun berlalu, kini bisnis kopi luwak nyaris kosong di Kabupaten Bondowoso sebab hampir tidak ada permintaan dari konsumen dari luar.
Dia terakhir kali menjual kopi luwak pada 2013 lalu, dia menduga, minimnya permintaan kopi luwak karena munculnya specialty coffee yang lebih merata sejak tahun 2010 dan seterusnya.
Sederhananya, specialty coffee adalah kopi yang mempunyai kualitas bagus, baik rasa maupun aroma dengan standar ukur cupping test dan tentunya diproses dengan ketentuan khusus.
“Kemudian faktor harga kopi luwak yang sangat mahal dan populasi luwak sendiri lambat laun juga berkurang,” ujar Yusriadi yang tinggal di Sukosari Lor, Kecamatan Sukosari, Bondowoso ini.
Praktis di Bondowoso sendiri saat ini sudah tidak ada lagi aktivitas ekspor kopi luak ke luar negeri, namun Ia menyebut, bisnis kopi luwak yang masih berjalan ada di wilayah Sumatera diekspor ke Taiwan.
Menurut praktisi kopi luwak Bondowoso sendiri, kopi luwak karakter paling menonjol itu aroma tanah basah dan lumut.
“Secara kesehatan saya kurang paham, tapi sepertinya kopi luwak dibeli karena bagian dari rasa gengsi,” jelasnya.


