Harga gas di Eropa pun ikut meroket lebih dari 50% pada Senin setelah QatarEnergy mengumumkan penangguhan produksi LNG akibat serangan Iran, sehingga harga minyak dan gas naik akibat konflik Timur Tengah tidak hanya memengaruhi crude oil tetapi juga komoditas gas alam di benua Eropa.
Kontrak berjangka TTF, patokan gas Eropa, melonjak lebih dari 48% menjadi sekitar Rp850.000 per MWh, level tertinggi sejak Februari 2025, mengonfirmasi bahwa harga minyak dan gas naik akibat konflik Timur Tengah telah memicu volatilitas ekstrem di pasar energi regional Timur Tengah dan Eropa.
Risiko terbesar bagi pasar minyak global saat ini adalah potensi serangan terhadap infrastruktur energi utama atau gangguan navigasi di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui hampir seperlima pengiriman minyak dunia, sehingga harga minyak dan gas naik akibat konflik Timur Tengah bisa semakin parah jika selat strategis ini terblokir.
Sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan melintasi Selat Hormuz setiap hari, artinya penundaan pengiriman sekecil apa pun dapat mengguncang rantai pasokan global, dan harga minyak dan gas naik akibat konflik Timur Tengah berpotensi mendorong Brent hingga Rp1.600.000 per barel jika gangguan di Timur Tengah berlanjut.
Konsultan energi Wood Mackenzie memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak yang lebih drastis, sehingga harga minyak dan gas naik akibat konflik Timur Tengah bukan sekadar fluktuasi sesaat melainkan sinyal risiko geopolitik jangka panjang bagi stabilitas pasokan energi dunia.
Sebagai informasi tambahan, data International Energy Agency 2026 menyebutkan bahwa gangguan pasokan 5% dari kawasan Timur Tengah dapat mendorong harga minyak global naik 30-40%, memperkuat kekhawatiran bahwa harga minyak dan gas naik akibat konflik Timur Tengah akan berdampak sistemik pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.***
