Bisnis

Jika Danantara Salah Kelola, Pakar Nilai Reputasi SBY dan Jokowi Akan Ikut Tercoreng

×

Jika Danantara Salah Kelola, Pakar Nilai Reputasi SBY dan Jokowi Akan Ikut Tercoreng

Sebarkan artikel ini
da
Presiden Prabowo Bersama dua mantan presiden RI yang juga pengawas Danantara, SBY dan Jokowi. (Foto: X)

KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Prabowo Subianto telah membentuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). Dalam susunan pengurus, Prabowo menunjuk Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SB) dan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) sebagai pengawas Danantara.

Menurut Pakar Kebijakan Publik UPNVJ, Achmad Nur Hidayat, penunjukan dua mantan presiden RI itu apabila Danantara gagal mengelola, maka akan membuat jelek nama dua mantan orang nomor satu di Indonesia itu.

“Jika Danantara mengalami salah kelola atau menghadapi skandal di masa depan, reputasi mantan presiden (SBY dan Jokowi) yang bertindak sebagai pengawas juga akan ikut tercoreng,’’ ujar Achmad Nur, dalam keterangannya, Selasa, 25 Februari 2025.

Baca Juga  Bukan Kabar Buruk! Celios Sebut Pencopotan Sri Mulyani Justru Baik bagi Ekonomi Nasional

Lanjut dia, bahwa dalam praktik terbaik sovereign wealth fund global, dewan pengawas biasanya diisi oleh para bidang tata Kelola, manajemen investasi, dan regulasi keuangan. Akan tetapi, Prabowo memilih pengawas yang bukan ahli pada bidangnya.

“Dalam kasus Danantara, pemilihan mantan presiden lebih terlihat sebagai upaya meningkatkan daya tarik politik daripada membangun sistem pengawasan yang kredibel,’’ kata Achmad Nur.

Ia pun berpadangan bahwa kehadiran SBY dan Jokowi tidak serta merta meningkatkan kepercayaan pasar, melainkan justru bisa menjadi bumerang jika kredibilitas Danantara runtuh.

“Investor yang paham tata kelola keuangan akan lebih menghargai kehadiran figur dengan kompetensi investasi yang kuat daripada tokoh politik dengan latar belakang eksekutif negara,’’ ucapnya.

Baca Juga  Partai Golkar Rilis Struktur Baru, Jokowi dan Wapres Tak Masuk Kepengurusan

Di sisi lain, kata dia, saat Danantara resmi diluncurkan, respons pasar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru biasa saja, bahkan cenderung melemah.

Ia mencatat, pada hari peluncuran Danantara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 0,78% ke level 6.749,60

“Nah, ini menunjukkan bahwa investor tidak melihat Danantara sebagai instrumen investasi yang menjanjikan atau membawa dampak positif langsung terhadap ekonomi nasional,’’ ujar dia.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan peluncuran sovereign wealth fund di negara lain, reaksi IHSG terhadap Danantara sangat kontras.

Baca Juga  GovTech Prabowo Didukung DPR sebagai Solusi Berantas Korupsi

Pasalnya, dalam beberapa kasus sukses di negara lain, peluncuran lembaga investasi nasional seringkali disambut dengan optimisme pasar karena dianggap sebagai langkah yang memperkuat ekonomi.

“Namun, di Indonesia, reaksi dingin dari IHSG mengindikasikan bahwa investor masih skeptis terhadap masa depan Danantara,’’ tuturnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan Danantara di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 24 Februari 2024.

Prabowo menyampaikan bahwa Danantara bukan hanya sekadar badan pengela investasi, melainkan fungsi lainnya yakni sebagai instrument untuk mengoptimalkan pengelolaan kekayaan Indoensia demi kesejahteraan rakyat. (*)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *