Selanjutnya tantangan ketiga ialah perubahan demografi. Sejumlah negara maju mengalami penuaan populasi, Indonesia justru didominasi oleh generasi muda. Kondisi itu menjadi tantangan sekaligus peluang.
Menurut Perry, digitalisasi perlu diperkuat untuk memastikan generasi muda dapat berkontribusi secara maksimal terhadap perekonomian.
Meskipun demikian, digitalisasi ekonomi itu menjadi tantangan yang keempat. Adopsi teknologi digital makin luas di berbagai sektor sejak pandemi COVID-19, termasuk di sektor UMKM. Untuk menjaga momentum ini, pemerintah perlu terus mendorong akselerasi digital.
Upaya itu juga turut dilakukan oleh BI. Sebagai contoh, BI menggencarkan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Berdasarkan data terakhir, transaksi QRIS tumbuh pesat sebesar 217,33 persen (year-on-year/yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 52,55 juta dan jumlah merchant 33,77 juta.
Tak hanya di dalam negeri, BI juga mendorong penggunaan QRIS lintas negara, seperti di Singapura, Malaysia, dan Thailand.
“Itulah digitalisasi. Tidak hanya untuk sekarang, tapi juga milenial-milenial ke depan,” ujarnya.
Tantangan terakhir yaitu inklusi ekonomi hijau untuk UMKM. Pemerintah perlu memastikan transformasi ini mencakup semua lapisan masyarakat agar inklusi ekonomi dapat tercapai.***

