Bisnis

Dibalik Harga Tinggi Ada Alarm Bahaya Pertanian Kopi Kita

×

Dibalik Harga Tinggi Ada Alarm Bahaya Pertanian Kopi Kita

Sebarkan artikel ini
Ekspor kopi Indonesia mencapai 342,33 ribu ton atau senilai 1,49 miliar dolar AS selama Januari-September 2024.
Ilustrasi biji kopi. (Pixabay/Couleur)

KITAINDONESIASATU.COM – Bumi makin panas, kekeringan melanda negara penghasil kopi dunia, memicu lonjakan harga kopi dan gula hingga ke level tertinggi.

Di pasar dunia, harga kopi arabika melonjak mencapai rekor 13 tahun terakhir, dan harga gula mentah mencetak kenaikan tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Sinyal cuaca buruk dari Brazil menggema ke seluruh pelosok dunia, termasuk ke Indonesia, produsen kopi yang nasibnya mulai bergetar oleh dampak perubahan iklim global.

Merujuk data Refinitiv, harga kopi Arabika dalam sepekan melesat 7,3% ke US$ 269,1/Lbs. Sepanjang tahun ini harga kopi sudah terbang 43%.

Indonesia, dengan kebun kopi dari Aceh hingga Papua, juga tak terhindar dari gejolak ini. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kopi Indonesia turun dari 771 ribu ton pada 2022 menjadi 756,1 ribu ton pada 2023.

Penurunan ini menggemakan sinyal bahaya di sektor kopi nasional, yang selama ini menjadi tulang punggung jutaan petani. Perubahan iklim yang ekstrem, serangan hama, serta kurangnya peremajaan tanaman membuat produksi kopi Indonesia perlahan-lahan merosot.

Sementara itu, para petani yang masih bertahan di tengah situasi sulit ini mendapatkan angin segar dari kenaikan harga. Namun, di balik itu, pelaku industri pengolahan kopi menghadapi tantangan besar: kenaikan biaya produksi yang tidak terhindarkan.

Baca Juga  Festival Gedong Gincu dan Pisang Apuy di Majalengka

Di sisi lain dunia, Vietnam-rival utama Indonesia dalam produksi kopi robusta-mengalami cuaca yang lebih bersahabat tahun ini.

Meskipun demikian, dampak cuaca buruk sebelumnya masih terasa pada pasokan yang sedikit tertahan. Meski demikian, peningkatan produksi di Vietnam diprediksi akan membantu menstabilkan harga arabika yang meroket akibat gangguan di Brazil.

Brazil dan Vietnam memang menjadi dua raksasa kopi dunia, namun apa yang terjadi di Brazil membawa getaran hebat ke seluruh dunia, termasuk di Vietnam dan Indonesia.

Sementara itu, data ekspor kopi juga menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Pada 2023, volume ekspor kopi turun drastis menjadi 276.335,2 ton dari 433.881,1 ton pada tahun sebelumnya.

Meskipun terjadi penurunan volume, nilai ekspor atau FOB (Free on Board) tetap tinggi, mencapai US$ 916,5 juta atau sekitar Ep 14,19 triliun.

Hal ini mencerminkan lonjakan harga kopi di pasar internasional sebagai dampak dari terbatasnya pasokan akibat penurunan produksi.

Baca Juga  Usaha Keripik Singkong yang Menjanjikan dan Peluang Ekspor ke Luar Negeri

Bagi 1,86 juta keluarga petani kopi di Indonesia, kekeringan di Brazil mungkin tampak jauh, namun dampaknya sangat nyata. Kopi yang mereka hasilkan kini menjadi semakin mahal, tapi tidak semua petani bisa menikmati hasilnya.

Dengan produktivitas yang hanya 780 kg per hektar, Indonesia tertinggal jauh dari Brazil yang mampu menghasilkan 7.000 kg per hektar dan Vietnam dengan 3.500 kg per hektar.

Rendahnya produktivitas ini menggarisbawahi urgensi perbaikan infrastruktur pertanian dan regenerasi tanaman kopi.

Kopi yang dulu menjadi kebanggaan, kini berhadapan dengan krisis yang tidak bisa diabaikan.

Di tengah gejolak harga, konsumsi kopi di Indonesia justru terus meningkat.

Data USDA mencatat bahwa konsumsi kopi nasional diperkirakan mencapai 4,79 juta kantong pada 2023/2024, mengutip dari research@cnbcindonesia.com.

Survei Snapchart pada September 2023 menunjukkan 79% masyarakat Indonesia minum kopi setidaknya sekali sehari, terutama di pagi hari.

Mayoritas konsumen menghabiskan antara Rp6.000 hingga Rp20.000 per cangkir, menjadikan kopi bagian penting dari rutinitas harian. Namun, dengan harga kopi yang terus naik, kopi mungkin tak lagi sekedar kenikmatan pagi, tapi beban baru di dompet.

Baca Juga  KAI Amankan 7 Ribu Lebih Barang Tertinggal Milik Penumpang, Begini Cara Mengambilnya

Di balik lonjakan harga dan kenaikan konsumsi, ada tantangan besar yang mengintai. Jika penurunan produksi kopi di Indonesia terus berlanjut tanpa ada tindakan nyata, seperti peningkatan teknik budidaya dan penanganan perubahan iklim, Indonesia berisiko kehilangan posisi strategisnya di pasar global.

Ironisnya, di tengah kenaikan konsumsi, Indonesia bisa saja terpaksa meningkatkan impor kopi-sebuah situasi yang tentunya membingungkan bagi negara yang seharusnya menjadi produsen utama.

Namun, harapan belum sirna. Pemerintah dan pelaku industri mulai menyusun langkah-langkah untuk menyelamatkan sektor kopi.

Program peremajaan tanaman, peningkatan teknik pengolahan, dan strategi menghadapi perubahan iklim menjadi fokus utama. Jika langkah-langkah ini dilakukan dengan baik, Indonesia bisa mengembalikan posisinya sebagai produsen kopi yang disegani dunia.

Di balik setiap cangkir kopi, ada cerita panjang yang melibatkan jutaan tangan petani, perubahan iklim, dan dinamika pasar global.

Kopi lebih dari sekadar komoditas, ia adalah warisan budaya dan ekonomi yang menjadi tulang punggung masyarakat. Jika kita gagal menjaga keberlanjutannya, kita tidak hanya kehilangan produk, tetapi juga kehilangan bagian dari diri kita. Maka, menjaga kopi adalah menjaga masa depan bersama.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *