KITAINDONESIASATU.COM – Banyak startup di Indonesia gagal dan bangkrut, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) karena produk dan layanan yang dikembangkan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sekretaris Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yurike Patrecia Marpaung, menjelaskan, faktor utama kegagalan startup adalah kurangnya strategi marketing dan dukungan riset yang tepat.
“Banyak startup jatuh karena hasil riset yang mereka kembangkan tidak inline dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Yurike, di Jakarta, Selasa (21/10).
Tak hanya itu, kurangnya pendanaan dan regulasi dari pemangku kebijakan juga membuat banyak inovasi gagal dimanfaatkan secara ekonomi. Yurike menekankan bahwa riset startup memang tidak langsung menghasilkan keuntungan, karena awalnya fokus pada teknologi atau model.
Untuk mengatasi masalah ini, BRIN mendorong peran Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) sebagai simpul jejaring riset, mengakumulasi kebutuhan riset lokal, menyaring kualitas penelitian, dan memastikan hasil riset dapat diintegrasikan dalam kebijakan.
Tak kalah penting, Bappeda DKI Jakarta telah menyiapkan Jakarta Research and Innovation Ecosystem (JRIE), wadah kolaborasi bagi akademisi, startup, inovator, OPD, dan BUMD. JRIE bertujuan memperkuat ekosistem riset dan inovasi, sekaligus menciptakan solusi nyata untuk masalah Jakarta.
“Kami akan segera launching JRIE. Startup dari mana pun, dari Probolinggo, Yogyakarta, atau daerah lain, bisa bergabung. Siapa tahu bisa menyelesaikan permasalahan Jakarta,” ujar Kepala Pusat Riset dan Inovasi Daerah Bappeda DKI Jakarta, Andhika Ajie. (*)


