KITAINDONESIASATU.COM – Analis pasar modal, Reydi Octa, mengingatkan bahwa kondisi ekonomi dan geopolitik global saat ini masih diliputi ketidakpastian tinggi.
Situasi tersebut dinilai memengaruhi pergerakan arus dana investor di pasar keuangan.
Ia menjelaskan, tingginya suku bunga global serta fluktuasi harga minyak akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset yang lebih aman.
Instrumen seperti emas dan obligasi menjadi pilihan utama, sementara aset berisiko cenderung dihindari.
IHSG Menguat di Tengah Sentimen Global
Reydi menilai pergerakan dana investasi sangat sensitif terhadap perkembangan konflik geopolitik dan tekanan inflasi.
Jika ketegangan mereda, pasar berpotensi mengalami penguatan, namun sebaliknya tekanan akan meningkat apabila konflik semakin memanas.
Pada perdagangan Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat seiring dengan tren positif bursa saham di kawasan Asia.
Penguatan tersebut dipengaruhi oleh rebound teknikal setelah libur panjang, membaiknya sentimen global, serta pergerakan sektor energi dan konsumsi non-primer.
Selain itu, penurunan tensi geopolitik dan harga minyak turut memberikan ruang bagi penguatan pasar saham domestik.
Meski demikian, investor asing disebut masih berhati-hati dan belum masuk secara agresif, melainkan dalam tahap akumulasi terbatas sambil menunggu kepastian arah ekonomi global.
Hingga sore hari, IHSG tercatat naik lebih dari dua persen ke level 7.253,77.
Sementara itu, sejumlah indeks saham utama di Asia juga menunjukkan penguatan, mencerminkan sentimen positif yang mulai kembali ke pasar meski risiko global masih membayangi.(*)


