Lifestyle

Bolehkan Keluar Rumah Saat Malam 1 Suro? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Tradisi Jawa dan Pandangan Islam

×

Bolehkan Keluar Rumah Saat Malam 1 Suro? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Tradisi Jawa dan Pandangan Islam

Sebarkan artikel ini
suro 1
Dokumentasi perayaan malam 1 Suro. -Ist-

KITAINDONESIASATU.COM – Bulan Suro, yang bertepatan dengan Muharram dalam kalender Islam, memiliki makna khusus dalam budaya Jawa. Dianggap sebagai bulan penuh energi spiritual dan pantangan, banyak masyarakat yang masih mempercayai larangan seperti tidak bepergian pada malam 1 Suro.

Tradisi ini diyakini sebagai warisan leluhur sejak zaman Mataram Islam, saat Sultan Agung menggabungkan unsur kalender Hijriah dengan budaya Hindu-Buddha. Malam 1 Suro dipandang sakral dan kerap diisi dengan ritual seperti ziarah makam, tirakat, dan tapa brata.

Salah satu larangan yang paling dikenal adalah tidak keluar rumah saat malam 1 Suro, terutama bagi pemilik weton tertentu yang dianggap rentan terhadap gangguan gaib. Namun, menurut pandangan Islam, anggapan bahwa bepergian pada waktu tertentu bisa membawa sial termasuk perbuatan mencela waktu, yang jelas dilarang dalam Al-Qur’an (QS. Al-Jatsiyah: 24). Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa tidak ada waktu yang mendatangkan sial—semua waktu adalah ciptaan Allah dan sama baiknya untuk beraktivitas.

Selain larangan bepergian, terdapat juga kepercayaan yang melarang pernikahan atau membangun rumah di bulan Suro. Hal ini berasal dari kepercayaan lama tentang hari baik dan buruk. Namun Islam tidak membatasi waktu tertentu untuk menikah atau pindahan rumah—selama sesuai syariat, semua hari boleh dimanfaatkan untuk kebaikan.

Ada juga larangan berbicara kotor yang justru selaras dengan ajaran Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menjaga lisan di setiap waktu, bukan hanya di bulan tertentu.

Malam 1 Suro juga dikenal sebagai momen tapa bisu, ketika seseorang diam, tidak makan-minum, dan tidak keluar rumah demi perenungan spiritual. Meskipun bukan bagian dari ajaran Islam, aktivitas ini bisa dimaknai positif sebagai bentuk introspeksi. Namun penting untuk membedakan antara nilai budaya dan akidah, agar tidak terjerumus pada keyakinan yang bertentangan dengan tauhid.

Pandangan Islam sangat jelas: bulan Muharram adalah bulan mulia, yang seharusnya diisi dengan ibadah seperti puasa Asyura, memperbanyak amal, dan doa. Tradisi yang bertentangan dengan syariat perlu disikapi secara bijak—boleh dihormati sebagai warisan budaya, tetapi tidak dijadikan pegangan mutlak dalam keyakinan.

Sebagai umat Muslim, kita dianjurkan untuk tetap menjalani aktivitas seperti biasa selama bulan Suro, selama itu membawa kebaikan. Tidak ada larangan bepergian, menikah, atau membangun rumah dari sisi agama. Justru, bulan ini bisa dijadikan momentum untuk memperkuat iman, meningkatkan ibadah, dan memperbaiki diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *