KITAINDONESIASATU.COM – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menunjukkan sikap yang tak biasa sebagai pejabat publik saat akan berdiskusi dengan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Hal ini diduga terkait pembahasan mengenai 4 pulau Aceh yang ‘masuk’ ke Sumut.
Seperti yang telah diberitakan, Empat pulau yang sebelumnya masuk wilayah Provinsi Aceh—Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek—kini resmi menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Keputusan Mendagri Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025.
Keempatnya kini berada di bawah pengelolaan Kabupaten Tapanuli Tengah.
Nama Muzakir Manaf menjadi sorotan publik setelah dirinya terlihat menghadiri pertemuan dengan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Namun, perhatian tertuju pada momen ketika Muzakir Manaf disebut-sebut sempat meninggalkan lokasi saat Bobby hadir sebagai tamu dalam agenda pembahasan terkait perpindahan empat pulau dari Aceh ke wilayah Sumatera Utara.
Tindakan Muzakir Manaf ini turut dikomentari oleh Jhon Sitorus melalui akun @jhonsitorus_19 pada 10 Juni 2025. Ia menyebut bahwa Muzakir merupakan “singa tidur” dan memperingatkan agar negara tidak memicu kemarahannya.
“Jangan sampai negara membangunkan Singa Tidur! Siapa yang tidak marah kalau jadi Gubernur Aceh sekarang? Saya juga akan melakukan hal yang sama (meninggalkan Bobby Nasution) sekalipun dia datang sebagai tamu.” kata Jhon.
Tak berhenti di situ, Jhon juga mengangkat isu kedekatan politik antara Bobby Nasution dan Presiden Joko Widodo. Ia menilai hal ini berpengaruh besar terhadap kebijakan pemindahan wilayah empat pulau dari Aceh ke Sumut.
“Aroma politisnya makin kental apalagi Gubernur sumut (Bobby Nasution) adalah menantu Jokowi. Belum sampai setahun menjabat, 4 pulau yang milik Aceh harus dilepas ke Sumut.” ungkapnya.
Jhon pun mempertanyakan keputusan Kemendagri yang dianggap terburu-buru dalam memindahkan keempat pulau tersebut.
Ia bahkan mengaitkan isu ini dengan potensi kekayaan alam yang dimiliki wilayah itu. Dalam unggahannya, ia menyebut,
“Btw, 4 pulau yang diklaim jadi milik Sumut dibawah perintah Bobby Nasution ini kabarnya kaya minyak dan gas. Jadi semua paham kan kenapa harus pindah tangan?”
Unggahan tersebut mendapat respons luas dari warganet, dengan lebih dari 130 ribu pengguna Twitter telah melihat cuitan itu. Beberapa komentar bahkan menyuarakan kecaman.
Akun @anassaputra__ menuliskan, “Kita tidak berunding dengan penjajah. Itu baru teguran, seharusnya Kemendagri dan Bobby ini malu atas teguran Gubernur Aceh.” Sedangkan akun @sistiatutuo menegaskan, “Mendagri Tito yang cari penyakit.”
Ada pula tanggapan yang lebih keras dari akun @rakeyansunda yang mengatakan, “Memang arahnya Mendagri ingin merusak kesatuan negara sepertinya, atas perintah junjungannya. Tergantung ketegasan Presiden Prabowo untuk bertindak tegas atau..”
Komentar lain dari akun @toplezstarssss mempertanyakan keberanian aparat
“Ini aparat memang gak berani nangkap ya?”
Sementara akun @romario_aja menyindir, “Nanti disamperin personil polres nangis-nangis deh, ngakunya didzolimi sama polisi.”
Akun @henwizaniko turut menyoroti perbandingan penanganan ormas,
“FPI cuma ngerazia warung yang buka pas puasa di siang hari, ngerusakin mengobrak-abrik tempat prostitusi dan tempat penjual miras bisa kok dibubarin. Lah ini ormas yang sudah jelas-jelas dudukin tanah negara dan minta ganti rugi pula kok pemerintah diam-diam dan anteng-anteng aja, kenapa?”

