KITAINDONESIASATU.COM – Salah satu tempat ibadah umat Buddha Tri Dharma yang memiliki nilai sejarah tinggi di Kota Manado adalah sebuah vihara yang dibangun pada awal abad ke-19.
Vihara ini dikenal sebagai yang tertua di kawasan Indonesia Timur dan hingga kini masih aktif digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan budaya.
Terletak di jantung kota, bangunan ini menonjolkan arsitektur klasik Tiongkok abad ke-19, lengkap dengan ornamen-ornamen khas yang mencerminkan identitas budaya leluhur masyarakat Tionghoa di Manado.
Keunikan vihara ini tidak hanya terletak pada nilai historis dan keindahan bangunannya, tetapi juga pada tradisi keagamaan yang terus dilestarikan.
Salah satu perayaan besar yang rutin diadakan setiap tahun adalah peringatan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada bulan Februari.
Dalam rangka menyambut Imlek, vihara ini menjadi pusat perhelatan upacara keagamaan dan budaya yang dikenal dengan sebutan “Tapikong” atau “Toh Peh Kong”.
Ritual Tapikong merupakan bentuk penghormatan kepada Dewa Toh Peh Kong, tokoh spiritual yang sangat dihormati dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa.
Upacara ini melibatkan berbagai prosesi yang sakral dan meriah, dimulai dari doa bersama, persembahan, hingga pembacaan doa khusus oleh pemuka agama.
Namun, yang paling ditunggu masyarakat dan wisatawan adalah puncak perayaannya.
Puncak acara Tapikong ditandai dengan digelarnya pawai adat Tionghoa yang berlangsung sangat semarak dan atraktif.
Dalam pawai ini, para peserta mengenakan kostum tradisional Tiongkok dan menampilkan beragam pertunjukan budaya.
Atraksi paling menarik dalam pawai tersebut adalah tarian Barongsai yang enerjik serta Tan Shen atau Incen Pia, yaitu pertunjukan spiritual yang melibatkan gerakan unik para penari dalam kondisi trance.
Tradisi Tapikong di vihara ini tidak hanya menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan umat Buddha Tri Dharma, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang memperkaya keragaman Kota Manado.-***


