KITAINDONESIASATU.COM – Nama wanita kelahiran Balong, Ponorogo, Jawa Timur bernama Dewi Astutik tiba-tiba namanya mencuat pasca pengungkapan narkoba di Batam yang digelar Senin (26/5/2025).
Wanita ini kini menjadi buruan utama Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, diduga sebagai otak jaringan internasional penyelundupan melalui jalur laut.
Pengungkapan kasus ini merupakan kasus terbesar yang terjadi baru-baru ini di kepulauan Riau.
Wanita kelahiran Ponorogo 8 April 1983 ini mengadi Daftar Pencarian Orang (DPO) BNN setelah terlibat dalam penyelundupan heroin 2,76 kg pada September 2024.
Kemudian kasus ini terungkap saat Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta menangkap kurir berinisial ZM yang membawa heroin yang disebunyikan di dinding koper.
Dari hasil pemeriksaan ZM, kemudian BNN menelusuri jaringan itu hingga menemukan AH yang memerintahkan pengambilan heroin dari Dewi Astutik di Kamboja, yang kemudian di tangkap di Medan, Sumatera Utara.
Dalam penjelasan Kapala BNN Komjen Marthinus Hukom seperti dilansir batamnews.co.id menyebutkan bahwa Dewi Astutik sudah lama termonetor dalam perdagangan narkoba jaringan internasional.
Ia beroperasi aktif di kawasan Golden Triangle (Laos, Myanmar dan Thailan) yang dikenal sebagai pusat produksi opium dan heroin di kawasan Asia Tenggara.
Sementara menurut Marthinus Dewi adalah WNI yang bergabung dengan jaringan Afrika, bahkan pelaku yang saat ini tertangkap di Adis Ababa, Etthiopia adalah jaringannya.
Terkait dengan peristiwa ini BNN kemudian mengajukan Red Notece ke Interpol untuk menangkap Dewi Astutik dan menjadikannya target buruan polisi internasional.
Bahkan yang mengejutkan lagi baru-baru ini BNN dan Bea Cukai Kepri dan TNI AL menggagalkan penyelundupan 2 ton sabu-sabu di pelabuhan Bea Cukai Kepri.
Sebuah kapal Sea Dragon Tarawa diduga kuat merupakan bagian dari jaringan Dewi Astutik yang sebelumnya pada 12 Mei 2024 BNN juga menyita 1,9 ton sabu dan kokain dari kapal Aung Toe Toe 99 di perairan Selat Durian, yang menggarah ke sindikat yang sama.
Upaya pengintain dari BNN selama 5 bulan akhirnya mendapatkan pola penyelundupan yang dilakukan jaringan ini melalui perairan Kepri dari Kamboja.
Dari operasi itu, 6 pelaku berhasil diringkus petugas gabungan namun pemilik dan nahkoda kapal bernama Acay masih buron.
Sementara terakait pengiriman itu, masing-masing dari pelaku mendapatkan upah Rp25 juta dengan bonus Rp50 juta jika berhasil mengantarkan narkoba itu.
Marthinus menduga jika Dewi Astutik saat ini diduga masih berada di Kamboja dari hasil koordinasi dengan intelejen di luar negeri.
Kini Dewi Astutik menjadi salah satu target utama pemberantasan narkoba di Asia Tenggara, yang kini terus diawasi oleh BNN untuk bisa menangkapnya. **
