Lifestyle

Rumah Betang, Warisan Arsitektur Kolektif Suku Dayak

×

Rumah Betang, Warisan Arsitektur Kolektif Suku Dayak

Sebarkan artikel ini
FotoJet 3 19
Rumah Betang suku Dayak

KITAINDONESIASATU.COM – Rumah Betang merupakan simbol budaya dan kehidupan komunal masyarakat Dayak yang menetap di pedalaman Kalimantan.

Hunian tradisional ini mencerminkan semangat hidup berkelompok, di mana banyak keluarga tinggal bersama dalam satu bangunan besar yang disebut Rumah Betang.

Salah satu ciri khas Betang adalah bentuknya yang memanjang dengan satu akses masuk berupa pintu dan tangga utama yang disebut hejot.

Rumah ini dibangun menjulang di atas tanah, bertujuan melindungi penghuninya dari ancaman seperti banjir, hewan buas, maupun serangan musuh secara tiba-tiba.

Baca Juga  Ramalan Zodiak Sagitarius Hari Ini 21 Januari 2025: Komitmen Menikah hingga Dapat Rezeki Melimpah

Lokasinya umumnya berada di tepi sungai besar yang menjadi pusat kehidupan masyarakat Dayak.

Dari segi ukuran, Betang tergolong besar, panjangnya bisa mencapai 30 hingga 150 meter, dengan lebar 10 hingga 30 meter, dan berdiri di atas tiang setinggi 3 sampai 5 meter.

Bangunan ini terbuat dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), jenis kayu berkualitas tinggi yang terkenal tahan lama dan anti rayap.

Rumah Betang dapat dihuni hingga 100–150 orang, menjadikannya hunian yang padat namun diatur secara komunal.
Pemimpin adat yang disebut Pambakas Lewu memimpin kehidupan di dalam rumah ini.

Baca Juga  Menyusuri Keindahan Alam Air Terjun Bidadari dan Tiga Curug di Sekitarnya

Setiap keluarga menempati ruangannya masing-masing, sementara ruang depan digunakan sebagai balai pertemuan dan tempat menerima tamu.

Di area ini biasanya terdapat sapundu, patung atau totem berbentuk manusia yang digunakan dalam upacara adat untuk mengikat hewan kurban.

Di halaman rumah juga bisa ditemukan patahu sebagai tempat ibadah.

Sementara di bagian belakang terdapat tukau sebagai gudang alat pertanian dan bawong untuk menyimpan senjata.

Tak ketinggalan, sandung digunakan sebagai tempat menyimpan tulang anggota keluarga yang telah meninggal dan telah melalui prosesi upacara tiwah.-***

Baca Juga  Menelusuri Arsitektur dan Filosofi Rumah Betang Suku Dayak di Kalimantan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *