KITAINDONESIASATU.COM – Seorang wisatawan mengungkapkan kekesalannya mengaku kapok datang ke lokasi wisata di Kodi, Renggaro, Sumba Barat Daya, karena banyak pungutan yang berubah-ubah nilainya muali anak-anak hingga hingga orang tua.
“Sumpah saya nggak ke tempat ini lagi. Ini nggak bener. Dari awal saya sebenarnya sudah curiga karena review di google semuanya jelek sekali. Aku pikir namanya anak-anak ya…masih tak kemana gituloh, namanya anak-anak polos-polos toh,” kata seorang wisatawan yang kecewa itu.
Dalam unggahan video seorang wisatawan dimintai uang parkir sebesar Rp20 ribu, namun tidak lama kemudian berubah menjadi Rp50 ribu.
Begitu juga dengan acara foto-foto wisatawan dengan kuda yang awalnya Rp50 ribu namun setelah foto selesai dan waktunya membayar biayanya menjadi naik lagi Rp75 ribu.
Seorang laki-laki berpakaian adat juga mendatangi dan meminta uang seiklasnya, namun pria dewasa ini meminta dengan sopan dengan nilai seiklasnya, dengan alasan selama ini belum ada tiket masuk, parkiran belum ada.
“Karena tike masuk belum ada parkiran juga belum ada, kami minta kerelaan dari tamu…mohon maaf, sukarela dari tamu,” kata pria itu dalam unggahan video yang diunggah akun instagram @mountnesia.
Dalam unggahan akun instagramnya @mountnesia menulisakan ulasan yang dialami seorang wisatan di Kodi, Ratenggaro, Lombok Barat Daya, berikut ulasannya.
“Traveler ini mengalami kejadian kurang menyenangkan di daerah Sumba Barat Daya, tepatnya di Kodi, Ratenggaro, Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan review di Google dan testimoni para pengunjung yang sudah ke sana, tempat ini dikenal dengan ulah oknum yang mengganggu selama berwisata.
Para wisatawan menceritakan bahwa oknum tersebut mulai dari anak-anak yang berkerumun menawarkan jasa foto secara paksa, hingga dimintai uang untuk membeli buku, rokok, dan berbagai keperluan lainnya.
Mereka juga mengaku diminta membayar lebih dari harga yang disepakati saat menyewa kuda, jasa foto, dan pakaian adat.
Bahkan, ada insiden di mana mereka dihadang di jalan dan dimintai uang secara paksa saat perjalanan pulang.
Kejadian ini berlangsung pada 12 Mei 2025 sekitar pukul 14:20 WITA di jalan poros Ratenggaro menuju Tambolaka.
Meskipun keindahan alam di Sumba tetap memikat dan masyarakatnya dikenal ramah, pengalaman buruk ini menjadi catatan kelam tersendiri.
Para wisatawan berharap pemerintah daerah dapat memberi perhatian serius terhadap kejadian ini, mengingat sudah banyak testimoni serupa yang tersebar di ulasan Google Maps.
Mereka pun tetap memuji keramahan dan kebaikan orang-orang di NTT secara umum, namun mendesak agar keberadaban dan kenyamanan wisatawan tetap terjaga.”
