Lifestyle

Kapan Lebaran Ketupat 2025? Tradisi Penuh Makna yang Dirayakan 7 April

×

Kapan Lebaran Ketupat 2025? Tradisi Penuh Makna yang Dirayakan 7 April

Sebarkan artikel ini
Kapan Lebaran Ketupat 2025? Tradisi Penuh Makna yang Dirayakan 7 April
Kapan Lebaran Ketupat 2025? Tradisi Penuh Makna yang Dirayakan 7 April

KITAINDONESIASATU.COM – Setelah Idul Fitri berlalu, masyarakat Indonesia masih memiliki satu momen istimewa bernama Lebaran Ketupat. 

Perayaan ini bukan hanya soal menyantap ketupat, tetapi juga sarat akan nilai budaya dan spiritual yang berasal dari tradisi Jawa dan Lombok.

Kapan Lebaran Ketupat 2025?

Lebaran Ketupat 2025 diperingati pada hari Senin, 7 April, atau tepatnya pada 8 Syawal 1446 H—seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. 

Momen ini menjadi kesempatan kedua untuk berkumpul bersama keluarga, menyajikan hidangan khas, dan memperkuat tali silaturahmi dalam suasana yang lebih santai dibandingkan Idul Fitri.

Asal usul perayaan ini berkaitan erat dengan dakwah Sunan Kalijaga yang memadukan budaya lokal seperti kenduri dengan ajaran Islam, termasuk anjuran puasa enam hari di bulan Syawal. Ketupat menjadi simbol keberhasilan menjalankan ibadah tersebut.

Tradisi ini juga mengandung makna filosofis yang dalam, seperti ketupat yang berarti ngaku lepat (mengakui kesalahan), anyaman janur sebagai simbol kehidupan yang rumit, dan beras putih sebagai lambang kesucian. 

Masyarakat biasanya membagikan ketupat kepada sesama sebagai bentuk sedekah.

Meskipun bukan ibadah wajib, Majelis Ulama Indonesia menyatakan bahwa Lebaran Ketupat selaras dengan nilai-nilai Islam dan merupakan contoh keharmonisan antara agama dan budaya. 

Kini, generasi muda pun mulai menghidupkan tradisi ini dengan cara kreatif seperti membuat konten digital atau halal bihalal daring.

Apakah Lebaran Ketupat Sesuai Syariat Islam?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui K.H. Yusnar Yusuf Rangkuti menegaskan bahwa tradisi ini tidak bertentangan dengan syariat Islam. Justru, ia menjadi contoh moderasi beragama yang harmonis dengan kearifan lokal.

“Lebaran Ketupat sama halnya dengan mudik, keduanya bagian dari budaya yang memperkaya makna Idul Fitri,” ujar Yusnar.Bahkan, tradisi ini dinilai mendorong toleransi dan pertumbuhan ekonomi, seperti peningkatan penjualan ketupat dan janur.

Di tengah arus globalisasi, esensi Lebaran Ketupat tetap bertahan. Generasi muda mulai mengadaptasinya dengan cara kekinian, seperti membuat konten challenge menganyam ketupat di media sosial atau menggelar halal bi halal virtual.

Tak hanya di Jawa dan Lombok, kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung juga mulai mengadopsi tradisi ini, membuktikan bahwa nilai kebersamaan dan syukur tak lekang oleh zaman.

Dengan perayaannya jatuh pada hari kerja, tidak ada salahnya mulai merencanakan acara keluarga sejak sekarang. Lebaran Ketupat adalah bukti bahwa tradisi lokal dapat hidup berdampingan dengan semangat religius dan modernitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *