Lifestyle

Dampak Mengejutkan Konsumsi Kental Manis Berlebih pada Balita di Pamijahan Bogor : Fakta yang Harus Anda Tahu

×

Dampak Mengejutkan Konsumsi Kental Manis Berlebih pada Balita di Pamijahan Bogor : Fakta yang Harus Anda Tahu

Sebarkan artikel ini
dampak konsumsi gula
Diskusi ini mengingatkan kita semua akan tanggung jawab tentang pentingnya pola makan yang sehat untuk masa depan generasi penerus. (KIS/NICKO)

KITAINDONESIASATU.COM– Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta menggelar diskusi media di Teras Dara, Kota Bogor, Rabu 19 Maret 2025 sore, membahas penelitian penting mengenai dampak konsumsi gula berlebih, terutama kental manis, pada balita di Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Sekretaris Jenderal Yayasan Abhipraya Insan Cendekia, Satria Yudistira, menjelaskan bahwa penelitian ini melibatkan 100 anak yang rutin mengonsumsi kental manis, dengan data yang diperoleh melalui wawancara dengan orang tua dan pemeriksaan kesehatan anak-anak tersebut.

“Kami memilih responden yang mengonsumsi kental manis lebih dari tiga kali sehari, untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat mengenai dampaknya,” ungkap Satria.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2025 ini meliputi empat desa: Cibunian, Ciasihan, Cibitung, dan Cibitungwetan. Hasilnya mencengangkan, banyak masyarakat yang masih keliru menganggap kental manis sebagai susu pertumbuhan. 

“Warung-warung di daerah ini lebih sering menjual kental manis, dan masih banyak yang tidak menyadari bahwa itu bukan susu,” tambahnya dengan prihatin. 

Ahli Gizi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tria Astika, memberikan data yang mencolok; dari 100 responden, 64 persen masih percaya bahwa kental manis adalah susu.

Baca Juga  Rekomendasi Buah yang Cocok Dikonsumsi saat Lebaran Idul Fitri, Ini Saran dr. Zaidul Akbar!

Lebih lanjut, penelitian menunjukkan bahwa dari 27 anak yang mengonsumsi kental manis lebih dari tiga kali sehari, satu per tiga mengalami malnutrisi. “Konsumsi 2–3 kali sehari pun berpotensi meningkatkan risiko gizi lebih,” tegasnya.

Penelitian ini juga menggali faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan balita, seperti pekerjaan ayah dan pendapatan keluarga, yang berkontribusi pada masalah stunting. Menariknya, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki risiko lebih tinggi mengalami underweight di masa pertumbuhannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *