KITAINDONESIASATU.COM – Anggota Komisi XII DPR RI, Iyeth Bustami, mempertanyakan kenaikan harga elpiji yang belakangan dirasakan masyarakat.
Ia menyoroti faktor-faktor yang memicu lonjakan harga, ketergantungan Indonesia pada impor elpiji, serta langkah strategis yang diambil Pertamina untuk mengurangi ketergantungan tersebut demi mencapai kemandirian energi sebagaimana diamanatkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Iyeth menegaskan perlunya transparansi terkait proporsi elpiji yang berasal dari impor dibandingkan produksi dalam negeri.
Menurutnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor elpiji, yang menyebabkan harga berfluktuasi mengikuti dinamika pasar global.
Berdasarkan data yang ia peroleh, lebih dari 70 persen kebutuhan elpiji nasional dipasok dari luar negeri, terutama dari Qatar dan Arab Saudi.
Ketergantungan ini membuat harga elpiji rentan terhadap perubahan nilai tukar rupiah serta kebijakan energi global.
Selain mempertanyakan langkah konkret Pertamina dalam mengurangi impor elpiji, Iyeth juga menyinggung potensi transisi energi dengan menggantikan elpiji berbasis impor menggunakan alternatif lain, seperti gas dari batu bara atau Dimethyl Ether (DME).
“Apakah ada upaya dari Pertamina, misalnya menggantikan batu bara menjadi gas? Apakah itu sudah dikalkulasi?” tanya Iyeth, dikutip dari Parlementaria pada Kamis, (13/3/2025).
Namun, hingga kini, ia menilai bahwa implementasi DME masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk terkait infrastruktur dan biaya produksi.
Iyeth juga meminta kepastian mengenai ketersediaan elpiji menjelang bulan Ramadan dan Idulfitri, mengingat konsumsi masyarakat biasanya meningkat hingga 10-15 persen.
Meskipun Pertamina kerap menambah pasokan selama periode tersebut, ia tetap menyoroti kepastian jumlah tambahan suplai serta distribusinya agar harga tetap stabil di pasaran.
Menutup pernyataannya, politisi Fraksi PKB ini mengakui kekhawatiran masyarakat terhadap fluktuasi harga elpiji, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan melemahnya nilai tukar rupiah.
Ia berharap Pertamina dan pemerintah segera memberikan solusi konkret guna memastikan ketahanan energi serta mengurangi beban impor.
Jika transisi energi dapat segera diterapkan, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan terhadap elpiji impor, menjaga stabilitas harga, dan mewujudkan kemandirian energi sesuai harapan pemerintah. Namun, menurutnya, masih dibutuhkan kebijakan yang lebih progresif untuk merealisasikan tujuan tersebut.- ***

