KITAINDONESIASATU.COM – Musibah banjir yang melanda Bekasi pekan lalu mencerminkan sejarah panjang bencana serupa yang telah menjadi bagian dari wilayah ini sejak zaman kolonial Belanda.
Sejarawan Surya Zainul Lutfi dalam jurnal Sejarah dan Budaya mencatat bahwa banjir di Bekasi sudah terjadi sejak tahun 1924.
Saat itu, hujan lebat menyebabkan tanggul di sekitar Stasiun Bekasi hingga Tambun jebol, mengganggu jalur transportasi utama, termasuk perkeretaapian.
Penumpang yang terjebak dalam perjalanan menghadapi kepanikan akibat terputusnya komunikasi.
Dua tahun kemudian, pada 1926, banjir kembali melanda Bekasi. Kali ini, luapan Sungai Cigombong di Bogor mengakibatkan terputusnya akses jalan dari Karawang. Sebanyak 100 rumah dan 10 hektare sawah terendam, meskipun banjir mulai surut sehari setelahnya.
Pada periode 1932–1934, Bekasi kembali mengalami banjir besar. Wilayah yang paling terdampak masih sama, yaitu Cikarang, Tambun, dan Lemah Abang.
Banjir ini terjadi akibat curah hujan tinggi, kondisi tanah yang rendah, serta luapan sungai.
Kurangnya pemeliharaan tanggul yang saat itu berada di bawah kendali para tuan tanah memperparah keadaan.
Pemerintah kolonial mengalami kesulitan dalam melakukan perbaikan karena kepemilikan tanggul ada di tangan pihak swasta yang enggan bertanggung jawab.
Akibatnya, banjir tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan korban jiwa.
Dalam satu peristiwa tragis, seorang kondektur kereta barang dari Meester-Cornelis (kini Jatinegara) tewas setelah kereta tergelincir di jalur Cikarang yang terendam banjir.
Banjir yang merendam rel sejauh 700 meter dengan ketinggian air mencapai satu setengah meter membuat perjalanan kereta tidak mungkin dilakukan. Banyak penumpang memilih membatalkan perjalanan setelah mendengar insiden tersebut.
Kini, banjir di Bekasi bukan sekadar siklus lima tahunan, melainkan permasalahan yang terus berulang selama hampir satu abad.
Krisis iklim dan urbanisasi yang pesat semakin memperumit situasi.
Curah hujan yang semakin ekstrem, pengelolaan lingkungan yang belum maksimal, serta permukiman yang berkembang di daerah rawan banjir membuat Bekasi terus menghadapi ancaman serupa dengan yang terjadi pada era kolonial.
Sejarah ini menjadi pengingat bahwa diperlukan solusi jangka panjang.
Tanpa mitigasi yang tepat, banjir di Bekasi tidak hanya akan terus terjadi, tetapi juga berpotensi menjadi lebih parah di masa depan.- ***

