KITAINDONESIASATU.COM – Desa Trunyan merupakan salah satu desa kuno yang dihuni oleh komunitas yang menyebut diri mereka Bali Aga, yakni penduduk asli Bali yang mempertahankan tradisi leluhur yang berbeda dari masyarakat Bali pada umumnya.
Desa ini memiliki pura utama bernama Puser Jagat, yang berarti “Pusar Alam Semesta”.
Pura ini memiliki arsitektur unik dan berada di bawah naungan pohon beringin besar.
Salah satu tradisi khas masyarakat Bali Aga di Trunyan adalah cara pemakaman yang tidak biasa. Mereka tidak mengkremasi jenazah seperti masyarakat Bali lainnya, melainkan membaringkannya di bawah pohon beringin.
Anehnya, mayat-mayat tersebut tidak mengeluarkan bau busuk karena tertutupi oleh aroma khas yang berasal dari pohon tersebut.
Desa Trunyan terletak di antara Danau Batur dan tebing kawah luar Gunung Batur, gunung berapi besar di kawasan Kintamani.
Penduduknya merupakan keturunan masyarakat Bali asli yang telah ada sebelum masuknya kerajaan Hindu Majapahit pada abad ke-16.
Trunyan dikenal dengan Pura Pancering Jagat. Wisatawan tidak diperkenankan masuk ke dalamnya.
Desa ini juga memiliki rumah-rumah tradisional khas Bali Aga serta sebuah pohon beringin raksasa yang dipercaya berusia lebih dari 1.100 tahun.
Sementara itu, di sub-desa Kuban, terdapat area pemakaman unik yang hanya dapat diakses melalui jalur air karena dipisahkan oleh danau, tanpa jalur darat yang menghubungkannya.
Masyarakat Trunyan tidak menguburkan atau mengkremasi jenazah, melainkan hanya membiarkannya terbaring di dalam sangkar bambu hingga membusuk secara alami.
Meski demikian, tidak ada bau busuk yang tercium, karena pohon Taru Menyan di sekitar area pemakaman mengeluarkan aroma khas yang menetralisir bau.
Nama Trunyan sendiri berasal dari kata “Taru” yang berarti pohon dan “Menyan” yang berarti wangi.
Selain itu, ada aturan adat yang melarang perempuan Trunyan mendatangi pemakaman saat jenazah dibawa ke sana.
Kepercayaan setempat menyebutkan bahwa jika aturan ini dilanggar, desa bisa mengalami bencana seperti tanah longsor atau letusan Gunung Batur.
Akses Menuju Desa Trunyan
Untuk mencapai Desa Trunyan, pengunjung dapat melakukan perjalanan sekitar tiga jam dari Denpasar menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum menuju kawasan Batur.
Setibanya di sana, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki perahu dari dermaga kayu untuk menyeberangi Danau Batur.
Perjalanan air ini memakan waktu sekitar 20-30 menit, dan setibanya di Trunyan, biasanya sudah ada kelompok warga yang siap menyambut kedatangan wisatawan.- ***


