Sosok

Perjalanan Seni Eko Nugroho: Dari Jalanan Yogyakarta ke Panggung Internasional

×

Perjalanan Seni Eko Nugroho: Dari Jalanan Yogyakarta ke Panggung Internasional

Sebarkan artikel ini
FotoJet 48
Eko Nugroho

KITAINDONESIASATU.COM – Nama Eko Nugroho telah lama dikenal dalam dunia seni rupa, baik di Asia maupun Eropa.

Seniman asal Yogyakarta yang lahir pada tahun 1977 ini berhasil menorehkan prestasi besar di ranah seni kontemporer dan menjadi salah satu seniman Indonesia yang diakui secara global.

Dibesarkan di Yogyakarta, kota yang kaya akan budaya dan seni, Eko sudah akrab dengan berbagai bentuk ekspresi artistik sejak kecil.

Ia kemudian melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tempat di mana ia mulai bereksperimen dengan berbagai medium seni, seperti lukisan, gambar, sulaman, patung, video, hingga mural.

Menariknya, Eko memulai kariernya bukan dari galeri besar, melainkan dari jalanan.
Ia aktif dalam seni berbasis komunitas dan membawa unsur seni urban serta isu sosial ke dalam karyanya. Pendekatan ini menjadi ciri khas yang membedakannya dari seniman lain.

Pada awal 2000-an, Eko mendirikan komunitas komik independen bernama Daging Tumbuh, yang memberikan wadah bagi para seniman muda untuk berkarya secara mandiri.

Mengusung semangat Do It Yourself, komunitas ini mencetak dan mendistribusikan karya mereka tanpa bergantung pada penerbit besar, yang kemudian memperkaya dunia seni alternatif di Indonesia.

Popularitas Eko semakin meningkat setelah karyanya tampil dalam film Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016).

Dalam salah satu adegan, karakter Rangga dan Cinta mengunjungi pameran seni di sebuah hotel di Yogyakarta, yang menampilkan karya-karya Eko.

Momen ini turut memperkenalkan seni kontemporer Eko Nugroho kepada generasi muda, bersama dengan kelompok teater boneka Papermoon Puppet Theatre.

Karya-karya Eko Nugroho telah dipamerkan di berbagai galeri dan museum ternama di dunia.

Beberapa pameran tunggalnya yang menarik perhatian internasional antara lain:

LOST IN Parody – Arario Gallery, Seoul, Korea Selatan (2020)

NOWHERE IS MY DESTINATION – Artfront Gallery, Tokyo, Jepang (2019)

PLASTIC DEMOCRACY – Arndt Art Agency, Berlin, Jerman (2018)

SEMELAH – Asia Society (Commission Project), New York, AS (2017)

UH-OH UH-OH UH-OH (THE WORLD COMPLAINING) – Arario Gallery, Shanghai, China (2016)

LOT LOST – Art Gallery of New South Wales, Sydney, Australia (2016)

Tak hanya itu, karya-karyanya juga menjadi bagian dari koleksi tetap di berbagai museum dan institusi seni bergengsi, seperti:

Musée d’Art Moderne, Paris, Prancis

The Guy & Myriam Ullens Foundation, Tiongkok

Singapore Art Museum, Singapura

Musée des Beaux-arts de Lyon, Prancis

Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda

Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art, Brisbane, Australia

Asia Society Museum, New York, AS

Karya Eko Nugroho dikenal dengan perpaduan unsur budaya lokal dan isu global, yang menjadikannya menarik bagi kolektor dan institusi seni dunia.

Melalui karya-karyanya yang kerap memicu pemikiran kritis dan diskusi sosial, Eko tidak hanya menjangkau audiens yang luas tetapi juga membawa warna baru dalam seni kontemporer Indonesia.

Di usianya yang hampir memasuki 50 tahun, Eko Nugroho tetap aktif berkarya dan terus bereksperimen dengan berbagai medium baru.

Ia membuktikan bahwa seni bisa lahir dari jalanan dan berkembang menjadi bahasa universal yang mampu menyuarakan perubahan sosial di berbagai belahan dunia.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *