News

Ketakutan dan Kelaparan Mendera Warga Goma Setelah Serangan M23

×

Ketakutan dan Kelaparan Mendera Warga Goma Setelah Serangan M23

Sebarkan artikel ini
FotoJet
Anak-anak di Goma antri makanan

KITAINDONESIASATU.COM – Warga Goma, –sebuah kota di perbatasan timur Republik Demokratik Kongo dengan Rwanda– kini menghadapi ketakutan dan kelaparan mendalam setelah serangan kelompok pemberontak M23 yang terjadi di daerah itu.

Perasaan ketakutan dan putus asa terasa di kalangan penduduk kota. Akses makanan terbatas setelah jalur perdagangan dan pasokan terputus.

“Jika situasi ini terus berlanjut, kita semua akan mati, entah karena peluru atau kelaparan,” ungkap Ngise Ngeleka, seorang mahasiswa yang tinggal di Goma, seperti ditulis The Guardian pada Jumat 31 Januari 2025.

Warga juga mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki makanan, dan anak-anak menangis karena kelaparan.

Perjalanan dengan perahu yang biasanya digunakan untuk membawa pasokan juga terhenti setelah M23 menguasai Minova, kota pelabuhan di sepanjang Danau Kivu.

Rute perbatasan yang menghubungkan Goma dan Gisenyi di Rwanda pun turut diblokir. Pada hari Kamis dan Jumat, layanan listrik dan data seluler kembali beroperasi di beberapa distrik, dan jalur penyelamatan kota melalui perbatasan dengan Rwanda dibuka kembali.

M23, yang didukung oleh Rwanda, adalah kelompok pemberontak yang terus beroperasi di wilayah timur DRC. Kelompok ini memiliki kaitan dengan sejarah konflik yang melibatkan ekstraksi mineral di wilayah kaya sumber daya ini.

PBB menyuarakan kekhawatiran atas maraknya kekerasan di Kongo timur. Laporan tentang eksekusi dan pemerkosaan pun meluas.

Bagi banyak warga Goma, pendudukan M23 mengingatkan mereka pada kejadian serupa pada tahun 2012, namun kali ini situasinya jauh lebih buruk.

Rumah sakit kewalahan menangani korban pertempuran, dan upaya bantuan hampir tidak berjalan.

Hingga saat ini, lebih dari 2.000 orang terluka dan lebih dari 45 orang tewas. Organisasi kemanusiaan mendesak agar permusuhan dihentikan segera.

Meskipun ada tanda-tanda pemulihan di Goma, kebutuhan akan tempat berteduh, makanan, air, pasokan medis, dan perlindungan tetap mendesak.

M23 berencana untuk tetap berada di kota dan telah berjanji untuk membuka koridor kemanusiaan, meski potensi ketegangan dan pengaruh politik di wilayah ini tetap tinggi.

Beberapa warga juga mulai melihat kedatangan M23 sebagai harapan bagi perbaikan kehidupan sehari-hari, meskipun ada pula yang masih menentang kehadiran kelompok tersebut.- ***

Sumber: The Guardian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *