KITAINDONESIASATU.COM – Seorang ibu rumah tangga asal Palembang, Sumatera Selatan, berinisial SPS (25), ditemukan dalam kondisi mengenaskan di rumah kontrakannya di Kecamatan Kertapati. SPS diduga menjadi korban penyekapan oleh suaminya, WS (25).
Saat ditemukan, tubuh SPS tampak kurus kering, mengeluarkan bau tak sedap, dan rambutnya dipenuhi kutu. Keluarga segera membawa korban ke Rumah Sakit Hermina Jakabaring, tetapi SPS meninggal dunia satu hari kemudian, pada Rabu (22/1/2025), akibat dehidrasi parah.
Kakak korban, Purwanto (32), mengungkapkan bahwa SPS sempat berpesan sebelum meninggal bahwa suaminya telah memperlakukannya dengan buruk.
Tetangga korban juga menyebutkan bahwa SPS terlihat sangat lemah saat mengikuti Pemilu serentak pada November 2024.
BACA JUGA :
Masalah rumah tangga pasangan ini diketahui telah berlangsung sejak awal 2024, ketika SPS mengeluhkan tidak menerima nafkah dari WS.
Keluarga semakin khawatir saat WS mengantarkan SPS ke rumah pada Oktober 2024 dengan kondisi tubuh yang tampak kurus, meskipun SPS mengenakan cadar.
Nomor keluarga kemudian diblokir, sehingga mereka kesulitan untuk menghubungi SPS.
Pesan Terakhir Korban
Sebelum meninggal, SPS sempat mengungkapkan kepada kakaknya bahwa suaminya telah berbuat jahat kepadanya.
“Dia bilang bahwa dia (suaminya) sudah jahat. Omongan itu kami rekam untuk jadi bukti melapor ke polisi,” kata Purwanto.
Tetangga korban juga mengungkapkan bahwa SPS terlihat lemah saat Pemilu serentak pada November 2024.
“Tetangganya bilang, adik saya dipapah waktu itu. Tapi mereka tidak ada yang berani menanyakan lebih lanjut,” ujar Purwanto.
Purwanto menjelaskan bahwa SPS menikah dengan WS empat tahun lalu melalui proses taaruf.
Sejak awal 2024, SPS mulai mengeluhkan bahwa suaminya tidak lagi memberinya nafkah.
“Adik saya cerita bahwa sejak Februari 2024, dia tidak diberi makan dan nafkah lagi,” ungkapnya.
Keluarga sempat mencurigai kondisi SPS ketika WS mengantarkannya kembali ke rumah pada Oktober 2024.
“Tubuhnya kelihatan mulai kurus, meskipun dia bercadar. Tapi WS hanya mampir sebentar dan langsung membawanya kembali,” kata Purwanto.
Keluarga semakin kesulitan menghubungi SPS karena nomor telepon mereka diblokir oleh WS.
Ketika mereka mencoba memberi tahu SPS bahwa ibunya sakit, WS beralasan SPS sedang hamil muda. Namun, pemeriksaan dokter membuktikan bahwa SPS tidak hamil.
Kapolrestabes Palembang, Kombes Pol Harryo Sugihhartono, menyatakan bahwa pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan dan mengejar WS sebagai terduga pelaku.
Meskipun sebelumnya WS sempat diamankan, kasus ini telah dilimpahkan ke Satreskrim Polrestabes Palembang untuk proses lebih lanjut. Pihak keluarga berharap keadilan dapat ditegakkan untuk SPS.
