KITAINDONESIASATU.COM – Negosiator dari Qatar, AS, dan Mesir telah mendirikan pusat komunikasi di Kairo untuk memastikan kelangsungan gencatan senjata di Gaza.
Tantangan langsung muncul, termasuk laporan pelanggaran yang terjadi.
Petugas medis di Gaza menyatakan delapan warga terluka akibat tembakan Israel, sementara Hamas sempat menunda pengajuan daftar nama sandera untuk dibebaskan, yang menyebabkan keterlambatan dimulainya gencatan senjata.
Donald Trump, yang mengklaim peran penting dalam perjanjian ini melalui utusannya, Steve Witkoff, menyatakan keraguan tentang keberlanjutan kesepakatan tersebut.
“Itu bukan perang kita. Itu perang mereka,” ungkapnya,dikutip dari The Guardian pada Senin, 21 Januari 2025.
Meski demikian, penasihat Perdana Menteri Qatar, Majed al-Ansari, menekankan pentingnya dukungan dari pemerintahan AS.
Tahap awal gencatan senjata diperkirakan berlangsung selama enam minggu. Sementara negosiasi untuk tahap kedua dimulai awal Februari.
Kepercayaan yang minim di antara pihak-pihak terkait membuat pusat komunikasi di Kairo menjadi krusial untuk menangani laporan pelanggaran dan mencegah eskalasi.
Ansari mengungkapkan bahwa penundaan sebelumnya, seperti pada November 2023, sering disebabkan oleh perbedaan terkait daftar nama sandera dan tahanan.
Sebagai bagian dari kesepakatan, pengiriman bantuan ke Gaza telah meningkat. Lebih dari 900 truk bantuan dan 12.500 liter bahan bakar dari Qatar telah dikirim sejak Minggu.
Bantuan ini difokuskan pada kebutuhan dasar warga yang terdampak konflik berkepanjangan, meskipun rekonstruksi besar-besaran baru akan dimulai pada tahap berikutnya jika tercapai.
Namun, ada kekhawatiran terkait usulan dari pejabat transisi Trump untuk memindahkan 2 juta warga Palestina selama proses rekonstruksi, termasuk kemungkinan ke Indonesia.
Qatar menolak keras rencana tersebut, menegaskan bahwa relokasi atau pendudukan kembali tidak dapat diterima.
Saat ini, fokus utama para mediator adalah memastikan kelancaran pelaksanaan kesepakatan dan mendorong tercapainya perdamaian berkelanjutan di Gaza.- ***


