Berita UtamaNews

Doha Jadi Saksi Sejarah, Hamas-Israel di Ambang Perdamaian

×

Doha Jadi Saksi Sejarah, Hamas-Israel di Ambang Perdamaian

Sebarkan artikel ini
FotoJet 1 16
Perang Hamas-Israel

KITAINDONESIASATU.COM – Perundingan di Doha, Qatar, antara Hamas dan Israel kembali berlangsung pada Selasa (14/1/2025) waktu setempat.

Sejumlah sumber mengonfirmasi kemajuan signifikan dalam pembahasan yang membuka peluang pengumuman gencatan senjata di Gaza serta pertukaran tahanan dalam waktu dekat.

Pejabat Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa Israel dan Hamas hampir mencapai kesepakatan terkait gencatan senjata dan pembebasan sandera pada Senin, setelah berlangsungnya negosiasi penting di tengah malam.

Menurut laporan Reuters, Qatar yang bertindak sebagai mediator telah menyerahkan rancangan perjanjian gencatan senjata kepada Israel dan Hamas pada Senin.

Perjanjian ini diharapkan dapat mengakhiri konflik di Gaza, berdasarkan keterangan dari seorang pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut.

Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional AS, menyebutkan bahwa tekanan semakin besar bagi Hamas untuk menerima kesepakatan, sementara Israel telah mencapai banyak tujuan militernya di Gaza, sehingga kedua belah pihak berada pada posisi untuk menyetujui gencatan senjata.

Sullivan juga mengungkapkan bahwa meskipun upaya sebelumnya sempat menemui jalan buntu, pada Senin terdapat “kesan umum bahwa negosiasi ini bergerak ke arah yang positif.”

“Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita semua dapat memanfaatkan momentum ini dan merealisasikannya” ungkap Sullivan seperti ditulis CBS News pada 13 Januari 2025.

Kemajuan ini tercapai setelah pertemuan tegang antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Steven Witkoff, yang mendesak Netanyahu menerima sejumlah konsesi sebelum pelantikan Donald Trump pada 20 Januari.

Hamas, yang sejak Mei lalu menerima proposal Biden, menyatakan kesiapannya mencapai kesepakatan meski sebelumnya Netanyahu memilih melanjutkan perang.

Isi Perjanjian

Berdasarkan laporan Reuters, perjanjian ini mencakup pembebasan 33 tahanan Israel di Gaza, termasuk anak-anak, wanita, tentara, dan orang lanjut usia.

Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan sejumlah tahanan Palestina, termasuk mereka yang menjalani hukuman panjang.

Tahap kedua negosiasi akan dimulai 16 hari setelah perjanjian berlaku. Israel juga akan menarik pasukan secara bertahap dari wilayah Gaza, meski tetap mempertahankan kehadiran di perbatasan untuk keamanan.

Mekanisme khusus akan diterapkan untuk mencegah penyelundupan senjata ke wilayah tersebut, sementara bantuan kemanusiaan akan ditingkatkan.

Dengan perjanjian ini, warga Gaza utara akan diizinkan kembali ke rumah, dan jenazah korban konflik akan dikembalikan ke keluarga masing-masing. Langkah-langkah ini diharapkan menjadi awal stabilisasi di wilayah tersebut.- ***

Sumber: CBS News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *