KITAINDONESIASATU.COM – Banjir bandang yang terjadi di Rangel, Kabupaten Tuban mendapatkan reaksi dan membuat keprihatinan anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa (KKB) DPRD Tuban, Fahmi Fkroni, Minggu (5/1/2024).
Anggota FPKB DPRD Tuban ini menilai banjir bandang di kawasan Rangel pada Sabtu (4/1/2025) merupakan air kiriman dari atas perbukitan yang rusak.
Di atas perbukitan yang ada di atas kawasan banjir bandang tidak lagi ada hutan melain banyak aktivitas tambang, yang disinyalir akibat aktivitas ini membuat genangan air tak terkendali.
Mengutip dari beritajatim.com, Fahmi Fikroni merasakan keprihatinannya atas peristiwa banjir bandang yang terjadi juga menyebab banjir di wilayah Kecamatan Kerek.
Bahkan Fahmi mengaku sudah banyak laporan terkait aktivitas tambang yang ada di Tuban, dia juga menyayangkan banyaknya penambangan ilegal di kawasan itu.
Dalam waktu dekat Frak PKB akan segera menjadwalkan rapat bersama dengan dinas terkait dan penegak hukum untuk membahas masalah di atas.
Kalau memang ada yang ilegal, untuk segera ditertibkan, di sisi lain dia mengaku kesulitan sebab ranah perizinan penambangan tersebut ada di Pemprov, tetap dampaknya masyarakat Tuban yang menanggung.
Menurut data dari Dinas ESDM Jatim IUP Tahap Eksplorasi ada 64 dan IUP Operasi ada 32.
“Namun jika kita lihat di Kabupaten Tuban ada ratusan penambang ilegal yang sampai saat ini masih terus beroperasi termasauk di Kecamatan Rangel, Soko, Montong dan Bancar.
Semuanya tidak ada penindakan apapun, pada hal acamman pidana menurut Fahmi penambangan tanpa izin itu ga main-main.
Disebut Fahmi acaman pidana sesuai UU No 3 Tahun 2020 Pasal 158, setiap orang yang melakukan aktivitas penambangan tanpa izin dipenjara paling lama 5 tahun, dan denda 100 miliar.
Seperti kita ketahui akibat banjir bandang Sabtu (4/1/2025) sore mengakibatkan 15 rumah warga rusak diterjang air bah yang datang mendadak itu.
Kerusakan paling parah terjadi di rumah Joko Suwarno yang roboh diterjang banjir bandang, seluruh perabotan rumah tangga dan barang elektronik rusak.
Banjir bandang juga menerjang gedung SMP Negeri 1 Rengel, pagar tembok roboh, ruang kelas untuk belajar juga terendam lumpur.
Pihak sekolah pun khawatir pada Senin (6/1/2025) besuk aktivitas belajar para siswa akan dilaksanakan kembali bisa terganggu masalah lumpur ini.
Kini seluruh masyarakat dan pemerintah melakukan pembersihan material di Jalan Raya Rangel, depan Pasar Rengel yang ketinggian lumpur mencapai 35 cm.
Kemudian juga dilakukan pembersihan Jalan Posos Desa juga terendam lumpur dengan kedalaman sekitar 20 cm.
Sejumlah warga juga sedang membersihkan gang-gang dan rumah mereka yang terendam lumpur yang terbawa dari banjir bandang yang terjadi.
Mengutip penuturan Kalaksa BPBD Kabupaten Tuban, Sudarmaji kepada wartawan di Tuban banjir bandang merupakan luapan air hujan yang terjadi di dataran lebih tinggi.
Disebut dari dataran lebih tinggi seperti dari Desa Grabagan, Banyuabang, Ngrejeng dan Ngarum yang kemudian mengalir ke arah Desa Rangel.
Bahkan menurut pengamatannya dari tahun ke tahun air bah dan banjir yang terjadi di kawasan ini semakin besar.
Untuk itu pihak Pemerintah Kabupaten Tuban akan segera mengevaluasi bersama stakeholder akan duduk bersama untuk melakukan pencegahan.
Seperti kita ketahui hujan lebat pada hari itu sejak pukul 15:00 WIB hingga malam hari, sementara banjir bandang merupakan banjir kiriman.
Menurut warga banjir bandang merupakan banjir kiriman dari wilayah Kecamatan Grabagan dan kecamatan Rangel yang turun dari hutan di di Dusun Jati Kecil, Desa Rangel.
Lantara debit air yang tertalu tinggi menyebabkan air meluap kemana-mana termasuk Jalan Raya, jalan kecil hingga pemukiman penduduk, beruntung dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa. **



