KITAINDONESIASATU.COM – Peredaran narkoba harus menjadi perhatian serius di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), mengingat narkoba jenis sabu telah menyusup ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan hingga ke level pemerintahan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalsel, Brigjen Wisnu Andayana, dalam acara rilis akhir tahun bersama media di Banjarmasin, kemarin.
Wisnu menjelaskan bahwa meskipun terjadi penurunan jumlah peredaran narkoba pada tahun ini berkat upaya gencar dari Polda Kalsel dan jajaran yang berhasil mengungkap puluhan kilogram narkotika, seluruh wilayah Kalsel masih berstatus sebagai kawasan rawan narkoba menurut peta BNNP. Bahkan, terdapat 14 kelurahan atau desa yang masuk dalam kategori daerah berbahaya.
“Masyarakat diharapkan untuk selalu waspada. Narkoba sudah masuk ke semua lini. Ketahanan keluarga sangat penting untuk mencegah ancaman narkoba ini,” ujar Wisnu.
Wisnu juga menegaskan bahwa Kalsel sangat membutuhkan pusat rehabilitasi narkoba yang berada di daerah tersebut, agar penanganan bagi korban bisa lebih optimal tanpa harus mengirim mereka ke luar daerah. “Kalsel sangat memerlukan pusat rehabilitasi. Mengingat Kalsel sedang menghadapi darurat narkoba, ini sangat penting untuk menyelamatkan masyarakat Kalsel. Selama ini, kami harus mengirim korban rehabilitasi ke luar daerah,” jelasnya.
Untuk memerangi peredaran narkoba, BNNP Kalsel kini fokus untuk mengembangkan lebih banyak Desa Bersih Narkoba (Bersinar). Saat ini, sebanyak 70 desa telah terdaftar sebagai Desa Bersinar dan akan terus diperluas di seluruh Kalsel, karena inisiatif ini terbukti efektif dalam menekan angka peredaran narkotika di 13 kabupaten/kota.(Anang Fadhilah/Yo)
