KITAINDONESIASATU.COM – Polisi Jerman mengungkapkan bahwa seorang pria yang diduga menyebabkan kematian lima orang dan melukai ratusan lainnya setelah mobilnya melaju kencang di pasar Natal yang ramai, kini menghadapi dakwaan pembunuhan dan percobaan pembunuhan.
Pria yang diidentifikasi media Jerman sebagai Taleb al-Abdulmohsen, –seorang psikiater berusia 50 tahun asal Arab Saudi yang telah menetap di Jerman sejak 2006– ditangkap pada Sabtu malam setelah serangan di Magdeburg, yang terjadi pada Jumat malam.
Menurut pihak berwenang, jaksa penuntut telah mengajukan tuntutan terkait pembunuhan dan percobaan pembunuhan terhadap Abdulmohsen, yang dikenal sebagai aktivis anti-Islam dan sering mengeluarkan ancaman pembunuhan secara daring terhadap warga Jerman.
Sebelumnya, dia juga diketahui terlibat dalam perselisihan dengan otoritas Jerman.
Ribuan orang berduka atas kehilangan korban, yang terdiri dari empat wanita (berusia 52, 45, 75, dan 67 tahun) serta seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, sekitar 2.100 orang juga ikut serta dalam unjuk rasa sayap kanan yang digelar dengan tema “demonstrasi melawan teror”.
Para pengunjuk rasa tersebut memegang spanduk bertuliskan “remigrasi”, istilah yang digunakan oleh kelompok ekstremis anti-imigrasi untuk mendesak deportasi massal terhadap migran dan orang non-etnis Jerman.
Polisi dan pemerintah Jerman menghadapi kritik terkait upaya mereka dalam mencegah serangan tersebut, yang juga melukai 205 orang, dengan 40 di antaranya dalam kondisi kritis.
Tim medis terus bekerja keras merawat para korban, dengan laporan tentang darah di mana-mana dan banyaknya obat penghilang rasa sakit yang diberikan.
Abdulmohsen, yang menggambarkan dirinya sebagai mantan Muslim, aktif di media sosial X, membagikan banyak unggahan yang mengkritik Islam dan memuji mereka yang meninggalkan agama tersebut.
Pada beberapa kesempatan, ia mengungkapkan pandangan ekstrem, termasuk ancaman terhadap Jerman dan warga negaranya. Pada tahun 2013, ia bahkan dijatuhi denda atas ancamannya yang mengganggu ketertiban umum.
Pihak berwenang Jerman sebelumnya mendapat informasi dari dinas intelijen Arab Saudi mengenai ancaman yang dibuat oleh Abdulmohsen, tetapi laporan tersebut sepertinya diabaikan.
Kejadian ini memicu perdebatan mengenai respons keamanan Jerman terhadap potensi ancaman terorisme. Beberapa tokoh politik, termasuk Kanselir Jerman Olaf Scholz dan pemimpin partai oposisi, menuntut penjelasan mengenai kegagalan otoritas dalam mengantisipasi serangan ini.- ***
Sumber: The Guardian


